Jakarta, VIVA - Industri perbankan kini memasuki babak baru, seiring memudarnya berbagai batasan yang selama ini dianggap tak terelakkan.
Saat ini, kemampuan untuk meningkatkan kapasitas tanpa menambah tenaga kerja, mempercepat pengembangan tanpa lonjakan biaya, serta mengoperasikan proses inti dengan dukungan kecerdasan buatan (AI) turut mendorong industri perbankan beralih dari sekadar wacana masa depan menjadi realitas yang dapat diwujudkan saat ini.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Momentum tersebut menuntut bank untuk tidak lagi menunda, melainkan berani mengambil keputusan. Berikut 4 tren utama industri perbankan 2026 menurut Accenture, yang menggambarkan tantangan sekaligus peluang yang akan dihadapi industri perbankan dalam menapaki masa depan.
1. Evolusi Uang
Uang kini memasuki fase baru yang tidak lagi ditentukan oleh bentuknya, melainkan oleh cara produk ini bergerak dan bekerja untuk kepentingan pemiliknya. Mata uang digital seperti stablecoin, Central Bank Digital Currencies (CBDC), dan deposit yang ditokenisasi turut bergerak dari tahap eksperimen menuju penerapan berskala besar.
Pada saat yang sama, pembayaran terprogram atau programmable payments menjadikan transaksi lebih cerdas, di mana uang tidak hanya berpindah nilai, tetapi juga membawa data, konteks, dan sinyal kepatuhan (compliance signal) secara otomatis.
Menurut riset Accenture, hingga US$13 triliun nilai transaksi berpotensi bermigrasi ke metode pembayaran alternatif sebelum dekade ini berakhir. Tanpa langkah yang tepat, industri perbankan berisiko kehilangan pendapatan berbasis biaya hingga miliaran dollar AS.
Ke depan, pimpinan industri perbankan perlu menetapkan strategi mata uang digital yang jelas, selaras dengan kebutuhan nasabah yang terus berkembang, sekaligus membangun pondasi aman untuk mendukung pembayaran berbasis agen atau agentic payments.
2. Pengalaman Nasabah
Seiring antarmuka AI berkembang dari sekadar alat otomatisasi menjadi asisten yang mampu berkomunikasi sesuai konteks, ekspektasi nasabah pun berubah secara mendasar.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Perubahan ini setara dengan pergeseran besar yang terjadi pada gelombang awal digitalisasi. Industri perbankan kini tidak lagi terbatas pada aplikasi dan situs web, karena asisten AI mulai menjadi titik awal utama dalam interaksi dengan nasabah.
Nasabah berharap bank dapat hadir dan relevan di mana pun mereka berada, termasuk di dalam platform berbasis AI seperti ChatGPT. Mereka juga menginginkan panduan secara real-time melalui pengalaman yang terasa personal dan mulus, menyerupai interaksi dengan seorang bankir yang memahami kebutuhan mereka.
Halaman Selanjutnya
Ketika bank gagal untuk mengenali nasabah atau mengingat preferensi yang sudah ada, pengalaman tersebut justru menimbulkan jarak dan ketidaknyamanan. Di sisi lain, kemampuan AI juga membuka peluang bagi pihak ketiga untuk berada di antara bank dan nasabah, sehingga meningkatkan risiko disintermediasi.

2 weeks ago
5











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479806/original/021929400_1768990958-makanan_beku_sehat.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5124902/original/069816200_1738908499-glass-water-ai-generated.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500390/original/054028400_1770863825-IMG01145.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)
