Jakarta, VIVA – Menjelang waktu berbuka, pilihan hiburan masyarakat Indonesia semakin beragam. Namun dalam beberapa tahun terakhir, satu genre justru konsisten menarik perhatian: horor dan misteri. Alih-alih menghindari suasana mencekam, banyak orang justru menjadikan konten horor sebagai teman ngabuburit.
Fenomena ini tidak muncul begitu saja. Ia tumbuh seiring perubahan pola konsumsi hiburan digital, yang kini semakin personal, on-demand, dan berbasis komunitas. Scroll lebih lanjut yuk!
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Secara psikologis, menonton horor memicu adrenalin dalam kondisi yang aman. Tubuh merespons adegan menegangkan seolah menghadapi ancaman nyata, padahal otak sadar bahwa semuanya hanya cerita. Sensasi “safe fear” inilah yang membuat horor terasa menantang sekaligus menyenangkan.
Saat Ramadan, ketika aktivitas cenderung melambat dan waktu menjelang berbuka terasa panjang, ketegangan dalam cerita membantu mengalihkan perhatian dari rasa lapar. Waktu pun terasa berjalan lebih cepat.
Tak heran jika maraton konten misteri, baik dalam bentuk video pendek, podcast, maupun serial menjadi ritual baru menjelang azan magrib.
Menariknya, horor jarang dinikmati sendirian. Reaksi spontan seperti terkejut, tertawa lega setelah adegan klimaks, atau berdiskusi soal teori cerita menciptakan pengalaman kolektif. Di sinilah horor berubah dari sekadar tontonan menjadi aktivitas sosial.
Kolaborasi antara platform konten dan produsen perangkat menunjukkan bagaimana teknologi kini menjadi elemen krusial dalam membangun pengalaman hiburan. Kualitas layar, audio, hingga performa perangkat berperan penting dalam menciptakan atmosfer mencekam yang maksimal.
Ini juga menjadi penanda fase ekspansi besar di tahun 2026. Strateginya tidak hanya bertumpu pada aplikasi, tetapi membangun ekosistem horor terintegrasi lintas platform.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ekspansi tersebut mencakup pengembangan storytelling vertikal, kolaborasi produksi film, hingga penguatan posisi dalam ekosistem hiburan nasional. Langkah ini menegaskan ambisi membangun Horror Cinematic Universe yang menghubungkan aplikasi digital, vertical cinematic series, dan layar lebar.
“Memasuki tahun ketiga, kami ingin DMS+ terus berkembang menjadi platform terdepan dalam menghadirkan konten misteri dan horor yang berkualitas. Kolaborasi ini bukan hanya tentang pertumbuhan bisnis, tetapi tentang bagaimana industri horor Indonesia bisa semakin mudah diakses, lebih dekat dengan berbagai kalangan, serta memiliki daya saing lintas negara," ujar CEO DMS+, Demian Aditya.
Halaman Selanjutnya
Di tengah suasana Ramadan yang identik dengan refleksi dan ketenangan, horor tetap menemukan tempatnya. Genre ini menghadirkan katarsis emosional, pengalaman sosial, dan kinididukung teknologi pengalaman visual yang semakin imersif.

2 weeks ago
8











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479806/original/021929400_1768990958-makanan_beku_sehat.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5124902/original/069816200_1738908499-glass-water-ai-generated.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500390/original/054028400_1770863825-IMG01145.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)
