ESDM Jamin Harga LPG Subsidi Tak Naik Meski Rupiah Melemah

6 days ago 9

Senin, 18 Mei 2026 - 18:38 WIB

Jakarta, VIVA – Kementerian ESDM melalui Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas), Laode Sulaeman memastikan, harga LPG subsidi 3 kilogram (kg) tidak naik meskipun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah.

“Belum ada perubahan. Harga LPG subsidi tetap, enggak ada (perubahan)," kata Laode di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin, 18 Mei 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman

Dia menambahkan, baik harga LPG subsidi maupun BBM subsidi tidak akan berubah hingga akhir tahun 2026, sebagaimana yang sebelumnya telah ditekankan oleh Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia.

“Kan sudah diumumkan Pak Menteri. Sampai akhir tahun (tidak berubah),” ujarnya.

Diketahui, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah ke level Rp 17.668 per dollar Amerika Serikat (AS), anjlok 71 poin atau 0,40 persen pada penutupan perdagangan Senin, 18 Mei 2026. Level ini tercatat menjadi posisi rupiah terendah sepanjang masa.

Sebelumnya, pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, rapuhnya sentimen global didorong pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, terkait dengan kondisi kritis yang dihadapinya dalam negosiasi dengan Iran.

Sementara, para pelaku pasar kembali mencemaskan soal risiko gangguan pelayaran di Selat Hormuz, yang berpotensi memicu kenaikan harga minyak dan menambah tekanan terhadap inflasi energi.

“Perang dengan Iran mulai berdampak pada perekonomian AS karena harga minyak yang lebih tinggi menyebabkan harga bahan bakar menjadi lebih mahal, dan para ekonom memperkirakan melihat dampak putaran kedua dalam beberapa bulan mendatang," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Senin, 18 Mei 2026.

Selain itu, pelaku pasar juga fokus pada pertemuan Trump dan Xi Jinping di Beijing pada 14–15 Mei 2026, karena berpotensi memengaruhi arah ketegangan dagang, rantai pasok global, dan minat investor terhadap aset negara berkembang.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) dipastikan bakal tetap berada di pasar meski perdagangan sempat terpotong libur panjang. BI akan melakukan stabilisasi secara berkesinambungan di pasar offshore, mulai dari New York, Asia, hingga Eropa.

Ibrahim berpendapat, BI juga akan masuk secara agresif di pasar domestik, sejak pembukaan perdagangan 18 Mei 2026. Intervensi dilakukan melalui pasar valas spot, DNDF, serta pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder.

Halaman Selanjutnya

"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.590—Rp 17.660," ujarnya. (Ant).

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |