Tinjau Co-Firing Biomassa di PLTU Lontar, Aspebindo Dukung Target eNDC 2030

7 hours ago 4

Sabtu, 30 Agustus 2025 - 20:38 WIB

Jakarta, VIVA – Ketua Umum Asosiasi Pemasok Energi Mineral dan Batubara Indonesia (Aspebindo), Anggawira mengatakan pemanfaatan biomassa sebagai campuran batubara dalam skema co-firing PLTU dinilai semakin strategis dalam mendukung target pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) nasional.

Ia menegaskan pentingnya kolaborasi antara PLN dan pelaku usaha untuk memastikan keberlanjutan pasokan biomassa.

“Rencana pemenuhan pasokan energi biomassa untuk kebutuhan PLTU memerlukan kerjasama yang baik antara pelaku usaha dan PLN agar pemenuhan pasokan dapat mencapai target yang telah ditentukan,” ujar Anggawira dalam keterangannya, Sabtu, 30 Agustus 2025.

Ketua Umum Aspebindo, Anggawira

Lebih lanjut, Anggawira mengungkapkan bahwa PLN EPI telah memulai penyediaan biomassa secara aktif sejak tahun 2023 dan terus meningkatkan konsumsi co-firing biomassa secara signifikan. 

“Sepanjang 2025, konsumsi biomassa untuk co-firing telah menembus angka lebih dari 3 juta ton. Upaya ini berhasil mereduksi emisi dari sektor ketenagalistrikan sebesar lebih dari 3,316 juta ton CO₂e,” katanya.

Sejalan dengan itu, Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, menjelaskan bahwa program co-firing menjadi salah satu strategi utama dalam mencapai target enhanced Nationally Determined Contribution (eNDC) 2030 sektor energi. 

“Pemerintah telah menetapkan target eNDC 2030 untuk sektor energi, di mana co-firing substitusi sebagian batubara dengan biomassa di PLTU menjadi salah satu program pengurangan emisi GRK. Target nasionalnya adalah pemanfaatan 9 juta ton biomassa pada tahun 2030,” ujarnya.

PLTU Lontar yang berlokasi di bawah Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Banten 3 menjadi salah satu contoh nyata implementasi co-firing. 

Sementara, Senior Manager UBP Banten 3, Ria Indrawan, memaparkan bahwa unit ini secara teknis mampu menyerap hingga 5 persen biomassa dalam proses co-firing.

"Setiap harinya kami dapat menampung hingga 7.000 ton biomassa untuk co-firing. Ini membuktikan kesiapan teknologi dan operasional kami dalam mendukung program energi hijau," katanya.

Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin, saat melakukan kunjungannya ke PLTU Mulut Tambang Sumsel-8 (PLTU Tanjung Lalang) kelolaan PT Huadian Bukit Asam Power (HBAP). [Humas MIND ID]

Photo :

  • VIVA.co.id/Mohammad Yudha Prasetya

Ketua Satgas Pangan BPP HIPMI, M Hadi Nainggolan, yang turut hadir dalam kunjungan ini, menekankan bahwa keberhasilan co-firing tak hanya bergantung pada kesiapan PLTU, tetapi juga pada ekosistem pasokan biomassa yang terintegrasi. 

“Kunci keberhasilan bisnis biomassa adalah membangun ekosistem yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Dengan menggandeng pelaku industri sektor biomassa, artinya kita bisa mengoptimalkan pemenuhan biomassa untuk pasokan ke PLTU,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya

“Pemerintah telah menetapkan target eNDC 2030 untuk sektor energi, di mana co-firing substitusi sebagian batubara dengan biomassa di PLTU menjadi salah satu program pengurangan emisi GRK. Target nasionalnya adalah pemanfaatan 9 juta ton biomassa pada tahun 2030,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |