AI Bikin Lowongan Kerja Lulusan Baru Menyusut, Fresh Graduate Ketar-ketir

2 days ago 8

Kamis, 23 April 2026 - 22:05 WIB

Jakarta, VIVA – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini semakin banyak digunakan di berbagai sektor pekerjaan. Mulai dari administrasi, layanan pelanggan, hingga pekerjaan kreatif, banyak tugas yang sebelumnya dikerjakan manusia kini perlahan bisa dibantu bahkan digantikan oleh teknologi AI.

Bagi anak muda, khususnya lulusan baru yang sedang mencari pekerjaan pertama, kondisi ini menjadi tantangan baru. Persaingan kerja semakin ketat karena perusahaan mulai menekan perekrutan pegawai baru demi efisiensi. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Situasi ini juga menjadi perhatian mantan Perdana Menteri Inggris, Rishi Sunak, yang menilai AI sudah mulai membuat lowongan kerja entry level semakin berkurang. Menurutnya, kekhawatiran para fresh graduate terhadap masa depan karier mereka memang beralasan. 

Ia mengatakan banyak pimpinan perusahaan secara pribadi mengakui bahwa perekrutan tenaga kerja muda mulai melambat karena perusahaan kini lebih mengandalkan AI. “Ada alasan untuk khawatir dan memikirkan masa depan,” ujarnya sebagaimana dikutip dari BBC, Kamis, 23 April 2026.

Fenomena ini paling terasa di sektor jasa seperti hukum, akuntansi, hingga industri kreatif, yang selama ini menjadi tujuan utama banyak lulusan baru. Perusahaan dinilai kini bisa tetap berkembang tanpa harus menambah banyak karyawan.

Sunak, yang kini menjadi penasihat perusahaan AI Anthropic dan Microsoft, menyebut para CEO bahkan mulai memakai istilah “flat is the new up”. Artinya, bisnis tetap tumbuh, tetapi jumlah pekerja tidak ikut bertambah secara signifikan.

“Mereka berbicara tentang konsep bahwa mereka berpikir bisa terus mengembangkan bisnis tanpa harus secara signifikan menambah jumlah pekerja karena mereka mulai melihat bagaimana mereka bisa memanfaatkan AI.”

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Banyak perusahaan kini lebih selektif membuka lowongan kerja, terutama untuk posisi junior. Di sisi lain, kemampuan menggunakan AI justru mulai menjadi nilai tambah saat melamar pekerjaan. Karena itu, lulusan baru tidak hanya dituntut memiliki ijazah atau pengalaman magang, tetapi juga harus cepat beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Sunak menilai, AI seharusnya digunakan untuk membantu manusia bekerja lebih baik, bukan sepenuhnya menggantikan manusia. “Kita harus memikirkan bagaimana menyeimbangkan agar AI digunakan dengan cara yang positif… untuk membantu orang melakukan pekerjaan mereka dengan lebih baik, bukan menggantikan mereka.”

Halaman Selanjutnya

Ia juga menyarankan perubahan sistem pajak ketenagakerjaan agar perusahaan lebih tertarik merekrut pekerja baru. Menurutnya, pemerintah perlu menyeimbangkan ulang sistem tersebut karena pemasukan dari pajak tenaga kerja bisa menurun seiring semakin luasnya penggunaan AI.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |