(Artikel opini ini ditulis oleh Sapri Sale, Pengajar tiga bahasa semitik; Arab, Ibrani dan Suryani)
VIVA – Dalam pusaran konflik yang melanda Timur Tengah saat ini, Iran sering digambarkan semata-mata sebagai aktor negara, rezim, kekuatan militer, atau poros perlawanan. Namun, untuk memahami posisi Iran secara utuh—terutama dalam perspektif bahasa Persia (Farsi)—kita harus melihat lebih dalam dari sekadar peta geopolitik atau keseimbangan kekuatan di wilayah Timur Tengah. Kita harus melihat sejarah yang telah membentuk DNA dan jiwanya, sebuah sejarah yang dengan fasih diceritakan dalam artikel ilmiyah "Bagaimana Bahasa Persia Bertahan dari Setiap Kekaisaran yang Mencoba Menggantikannya".
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Di tengah gema suara-suara asing yang berusaha mendefinisikan kembali kawasan ini, Iran berdiri dengan sebuah keyakinan kuno: bahwa kekuatan sejati tidak hanya terletak pada pedang, senjata, kekuatan militer, tetapi pada kemampuan untuk mengubah para penakluk menjadi pecinta puisinya. Posisi Iran dalam perang saat ini adalah posisi dari sebuah peradaban yang telah ribuan tahun belajar bahwa ia akan bertahan, bukan dengan menjadi seperti musuhnya, tetapi dengan menjadi begitu tak tergantikan sehingga musuh pun pada akhirnya membutuhkannya.
Warisan Penaklukan: Dari Iskandar Agung, Pasukan Mongol hingga Bangsa Arab
Seperti yang diuraikan dalam banyak buku, bangsa Persia telah mengalami segalanya. Alexander Agung manaklukan dan membumi hanguskan Ibu Kota Persepolis, pusat Kekaisaran Akhemeniyah, dan memaksakan bahasa Yunani sebagai bahasa prestise. Namun, bahasa Persia tidak mati. Ia mundur ke dalam rumah-rumah, ke dalam bisikan para ibu kepada anak-anak mereka, menunggu waktu yang tepat untuk bangkit kembali.
Kemudian penaklukan Arab. Bahasa Arab datang bukan hanya sebagai bahasa penguasa baru, tetapi sebagai bahasa Tuhan. Selama dua abad, bahasa Persia nyaris terhapus dari ranah sastra dan administrasi. Namun, seperti yang dikisahkan dalam cerita-cerita, "bahasa Arab tidak dapat menjangkau ke dalam rumah-rumah." Ketika Dinasti Samaniyah memutuskan untuk menghidupkan kembali bahasa Persia, dan Ferdowsi menghabiskan 30 tahun menulis Shahnameh (Kitab Para Raja) dengan kosakata Arab seminimal mungkin, bahasa itu bangkit kembali—diubah, tetapi tetap Persia.
Halaman Selanjutnya
Pelajaran dari masa lalu ini membentuk cara Iran memandang konflik saat ini. Mereka telah melihat kerajaan-kerajaan besar datang dan pergi: Yunani, Arab, Mongol, Inggris dan Uni Soviet. Setiap kali, mereka belajar bahwa kekuasaan militer bersifat sementara, tetapi kekuatan budaya adalah abadi.
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.

3 weeks ago
19



























