Bogor Tak Hanya Kota Hujan, Tapi Juga Paling Melek Literasi di Jabar Tahun 2025

4 hours ago 3

Jumat, 27 Maret 2026 - 13:21 WIB

Jakarta, VIVA – Pada tahun 2025, Kota Bogor berhasil meraih posisi sebagai daerah dengan tingkat literasi tertinggi di Jawa Barat. Capaian tersebut menjadi bukti bahwa minat baca masyarakat, khususnya generasi muda, mulai menunjukkan tren positif. 

Meski demikian, tentu masih ada tantangan yang harus dihadapi agar budaya literasi dapat merata di seluruh lapisan masyarakat. Komitmen untuk memperkuat literasi ini juga terlihat dalam penyelenggaraan Bogor Book Fair 2026 yang menjadi ajang tahunan penting bagi masyarakat. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menegaskan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi menjadi fondasi penting dalam membangun pola pikir kritis di tengah perkembangan zaman. 

“Karena itu, kegiatan seperti ini penting untuk terus mendorong minat baca, khususnya di kalangan generasi muda,” ujarnya pada Selasa, 24 Maret 2026. 

Rektor IPB University, Dr. Alim Setiawan Slamet, turut menyoroti pentingnya peran ilmu pengetahuan dalam kehidupan sosial. Ia menekankan bahwa dunia akademik harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.

“Pendidikan tinggi tidak boleh menjadi 'menara gading'. Bogor Book Fair adalah manifestasi dari Science for Society, di mana riset dan inovasi yang kami hasilkan harus mampu terhilirisasi menjadi bacaan yang mencerahkan dan memberdayakan masyarakat secara luas,” ungkapnya.

Sementara itu, Direktur IPB Press, Erick Wahyudyono, menambahkan bahwa literasi harus dipandang sebagai “nutrisi intelektual” bagi masyarakat. Ia menyebut bahwa membaca tidak hanya meningkatkan kecerdasan, tetapi juga memperkaya cara pandang dan empati sosial.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Hari ini kita tidak hanya membuka pameran, kita sedang merayakan peradaban. Di IPB Press, misi kami adalah memastikan bahwa setiap butir pengetahuan yang lahir dari riset akademis dapat bertransformasi menjadi solusi praktis di tangan warga. Literasi adalah jangkar kita dalam menjaga nalar kritis di tengah derasnya arus disinformasi digital," tegas Erick.

Lebih jauh, konsep nutrisi intelektual ini diwujudkan melalui beragam pilihan bacaan. Mulai dari buku akademik, literatur sosial, hingga karya fiksi yang mampu mengasah imajinasi dan kreativitas. Pendekatan ini dinilai penting agar literasi tidak terasa kaku, melainkan menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat.

Halaman Selanjutnya

"Peradaban yang tangguh membutuhkan keseimbangan antara nalar dan rasa. Oleh karena itu, kami menghadirkan spektrum bacaan yang sangat luas—mulai dari novel fiksi yang mengasah imajinasi dan kreativitas, buku motivasi dan pengembangan diri yang inspiratif, hingga literatur sosial-politik yang edukatif. Kami ingin memastikan warga Bogor memiliki akses terhadap bahan bacaan yang tidak hanya mencerdaskan secara kognitif, tetapi juga mampu membangkitkan semangat dan memperkaya batin," tambahnya.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |