Jakarta, VIVA – Di saat dunia sibuk memetakan masa depan lewat riset ilmiah dan kebijakan global, para seniman di Asia Tenggara justru sudah lebih dulu “membaca” perubahan itu lewat karya mereka. Kini, pendekatan unik tersebut dirangkum dalam sebuah publikasi baru yang menggabungkan seni, refleksi, dan gaya hidup intelektual: RUANG// Journal.
Diluncurkan sebagai platform penulisan kritis, RUANG// Journal tak sekadar membahas seni sebagai estetika, tetapi juga sebagai cara memahami kehidupan modern yang semakin kompleks—mulai dari teknologi, lingkungan, hingga cara manusia membangun pengetahuan. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Edisi perdananya menghadirkan delapan penulis dari lima negara, yang mengulas bagaimana seniman Asia Tenggara merespons dunia yang terus berubah. Dari isu ekologi hingga ekspansi teknologi, karya-karya yang dibahas menunjukkan bahwa seni kini menjadi medium refleksi gaya hidup di tengah ketidakpastian global.
![]()
Sebanyak 25 seniman kontemporer masuk dalam sorotan, termasuk Marwa Arsanios, Tuan Andrew Nguyen, Yuki Kihara, hingga Robert Zhao Renhui. Praktik mereka beragam—ada yang terjun langsung ke lapangan meneliti lingkungan, ada pula yang bereksperimen dengan media spekulatif hingga mengangkat isu teknologi pengawasan dan pengetahuan lokal.
Fenomena ini terasa relevan dengan kondisi global saat ini. Pada Februari 2026, konsorsium riset internasional bahkan meluncurkan inisiatif besar untuk memetakan human exposome, yaitu akumulasi paparan lingkungan yang memengaruhi kehidupan manusia. Sementara itu, program seperti Futures Literacy dari UNESCO juga terus mendorong masyarakat untuk lebih siap menghadapi masa depan.
Di Asia Tenggara sendiri, realitas tersebut hadir dalam kehidupan sehari-hari. Kawasan ini bukan hanya pusat produksi teknologi dunia, tetapi juga wilayah yang menghadapi dampak ekologis dari perkembangan tersebut. Perkembangan kota pintar, industrialisasi, hingga perubahan lanskap pesisir menjadi bagian dari keseharian yang tak terpisahkan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Dalam konteks inilah seni menemukan perannya sebagai cermin kehidupan modern.
“Di Asia Tenggara, para seniman sering bekerja langsung di dalam lingkungan yang ingin mereka pahami, mulai dari infrastruktur industri dan jaringan digital hingga hutan, garis pantai, dan sistem perkotaan. Praktik mereka menunjukkan bagaimana kondisi teknologi dan ekologi benar-benar dialami di lapangan. RUANG// Journal hadir untuk mendukung penulisan yang melihat penyelidikan artistik ini sebagai bentuk pengetahuan yang penting,” ujar Natasha Doroshenko Murray, Founder of RUANG// and Editor-in-Chief of RUANG// Journal, dalam keterangannya, dikutip Sabtu 28 Maret 2026.
Halaman Selanjutnya
Menariknya, pendekatan yang diangkat dalam jurnal ini terasa semakin dekat dengan gaya hidup masa kini—di mana batas antara seni, sains, dan isu sosial semakin kabur. Para seniman tak lagi sekadar menciptakan karya, tetapi juga melakukan riset, berkolaborasi dengan ilmuwan, hingga menyuarakan isu-isu global lewat medium kreatif.

6 hours ago
2











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)

