Dari Oxford University hingga Imperial College London Mata-matai Mahasiswa dan Akademisi Pro-Palestina

2 days ago 2

Kamis, 23 April 2026 - 15:00 WIB

VIVA –12 Universitas di Inggris dilaporkan membayar sebuah perusahaan swast yang dikelola oleh mantan pejabat intelijen militer untuk ’memata-matai’ mahasiswa dan akademisi, termasuk mereka yang menyuarakan solidaritas terhadap Palestina.

Secara keseluruhan 12 universitas yang menggunakan jasa tersebut antara lain University of Oxford, Imperial College London, University College London (UCL), King’s College London (KCL), University of Sheffield, University of Leicester, University of Nottingham, dan Cardiff Metropolitan University.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Temuan ini terungkap melalui investigasi gabungan Al Jazeera English dan Liberty Investigates. Dalam investigasi itu terungkap bahwa Hours Security Limited memantau aktivitas media sosial mahasiswa dan melakukan penilaian ancaman terorisme secara diam-diam atas nama institusi elit Inggris.

Melansir laman Al Jazeera, Kamis 23 April 2026, perusahaan yang menyebut dirinya sebagai firma intelijen terkemuka itu telah menerima bayaran sedikitnya 440.000 pound sterling atau sekitar Rp 8,8 miliar dari berbagai universitas sejak 2022.

Berdasarkan dokumen internal perusahaan itu, beberapa pihak yang ikut dipantau antara lain akademisi Palestina yang diundang memberikan kuliah tamu di Manchester Metropolitan University, serta seorang mahasiswa doktoral di London School of Economics yang pro-Gaza.

Pada Oktober 2024, University of Bristol disebut memberikan daftar kelompok mahasiswa yang melakukan aksi protes dan ingin dipantau pergerakannya. Daftar tersebut mencakup aktivis pro-Palestina dan kelompok pembela hak hewan.

Pembelaan Pihak Kampus

Temuan ini muncul setelah Al Jazeera dan Liberty Investigates mengajukan permintaan informasi publik kepada lebih dari 150 universitas.

Semua institusi yang disebut telah dimintai tanggapan, namun beberapa di antaranya seperti University of Oxford, UCL, KCL, University of Leicester, dan University of Nottingham tidak memberikan jawaban.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

University of Sheffield menyatakan bahwa mereka menggunakan layanan pihak ketiga untuk memantau potensi isu yang dapat berdampak pada kampus, seperti rencana aksi demonstrasi besar. Mereka menegaskan bahwa hal ini bukan untuk menghambat aktivisme, serta tidak membagikan data mahasiswa maupun menugaskan pemantauan terhadap individu tertentu.

Imperial College London juga membantah bahwa layanan yang mereka gunakan merupakan bentuk pengawasan terhadap mahasiswa. Mereka menyebut penggunaan jasa Horus bertujuan untuk mengidentifikasi potensi risiko keamanan di sekitar kampus, termasuk aktivitas protes, dengan informasi yang bersumber dari data publik.

Halaman Selanjutnya

Horus sendiri didirikan pada 2006 sebagai bagian dari proyek tim keamanan University of Oxford oleh mantan Letnan Kolonel Jonathan Whiteley, yang memiliki pengalaman 23 tahun dalam operasi keamanan dan intelijen di berbagai belahan dunia.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |