Data Kemenkes 2026: Ratusan Ribu Anak Indonesia Alami Depresi dan Kecemasan

3 weeks ago 17

Minggu, 29 Maret 2026 - 16:04 WIB

Jakarta, VIVA – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026 mengungkap fakta yang mengkhawatirkan terkait kondisi kesehatan mental anak di Indonesia. Dari sekitar 7 juta anak yang telah menjalani skrining, hampir 10 persen di antaranya menunjukkan indikasi gangguan kesehatan jiwa, terutama kecemasan dan depresi.

Temuan ini disampaikan langsung oleh Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta. Ia menyebutkan bahwa angka tersebut menjadi sinyal serius yang tidak bisa diabaikan. Scroll untuk informasi selengkapnya!

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Ini menunjukkan masalah kesehatan jiwa itu besar sekali,” ujar Budi, mengutip situs Kemkes, Minggu 29 Maret 2026. 

Berdasarkan data yang dihimpun, sebanyak 4,4 persen atau sekitar 338 ribu anak terdeteksi mengalami gejala kecemasan (anxiety disorder). Sementara itu, 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak menunjukkan gejala depresi (depression disorder). Angka ini memperlihatkan bahwa persoalan kesehatan mental pada anak bukan lagi isu kecil, melainkan tantangan besar yang membutuhkan perhatian lintas sektor.

Lebih jauh, Budi mengingatkan bahwa gangguan kesehatan jiwa pada anak berpotensi berujung fatal jika tidak ditangani dengan baik. Ia merujuk pada data Global School-Based Student Health Survey yang menunjukkan peningkatan signifikan pada kasus percobaan bunuh diri di kalangan anak dan remaja, dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023.

Menurutnya, akar persoalan kesehatan mental anak tidak hanya berasal dari individu, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan sekitar, mulai dari keluarga hingga sekolah.

“Yang perlu diperbaiki bukan hanya anaknya, tetapi juga pola asuh keluarga serta lingkungan belajar. Kita perlu mensosialisasikan life skill dan Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP). Semua orang pasti menghadapi tekanan, namun yang terpenting adalah bagaimana meresponsnya dengan baik,” katanya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sebagai langkah lanjutan, Kementerian Kesehatan berencana memperluas cakupan skrining hingga menjangkau 25 juta anak di seluruh Indonesia. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat deteksi dini sekaligus mempercepat penanganan kasus yang ditemukan di lapangan.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas, Maria Endang Sumiwi, menjelaskan bahwa hasil skrining akan ditindaklanjuti oleh fasilitas layanan kesehatan tingkat pertama, seperti Puskesmas. Namun, ia juga mengakui bahwa ketersediaan tenaga psikolog klinis masih menjadi tantangan, dengan jumlah saat ini sekitar 203 orang di seluruh Indonesia.

Halaman Selanjutnya

Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, pemerintah juga mengoptimalkan layanan krisis kesehatan jiwa berbasis digital melalui platform Healing119.id, yang diharapkan dapat memberikan respons cepat bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |