Geopolitik Global Panas, RI Kejar Swasembada Pangan Demi Tekan Harga Beras

3 weeks ago 12

Senin, 30 Maret 2026 - 13:00 WIB

Solo, VIVA – Pemerintah mempercepat upaya swasembada pangan di tengah tekanan geopolitik global yang berdampak pada kenaikan harga bahan pokok, termasuk beras. Salah satu langkah yang ditempuh adalah penguatan infrastruktur irigasi serta program pompanisasi untuk menjaga produksi pertanian, terutama saat musim kemarau.

Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menyatakan, swasembada pangan tetap menjadi prioritas utama pemerintah untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga beras di dalam negeri.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Kalau yang di awal tetap nomor satu swasembada pangan. Karena bagaimanapun, peristiwa geopolitik hari ini menyebabkan semuanya naik, pangan jadi mahal. Kalau kita bisa swasembada pangan, kebutuhan beras masyarakat Indonesia akan tetap tercukupi,” ujar Dody saat melakukan kunjungan kerja (kunker) Bendung Boyo, Sragen - Boyolali, Jawa Tengah, Minggu, 29 Maret 2026.

Ia menjelaskan, salah satu strategi yang dilakukan adalah pembangunan jaringan irigasi air tanah (JIAT) di wilayah yang selama ini hanya mengandalkan curah hujan. Program ini diharapkan mampu meningkatkan intensitas tanam petani.

“Alhamdulillah kita bisa bikinkan jaringan irigasi air tanah sekaligus untuk menjawab kebutuhan air di luar musim hujan,” katanya.

Menteri PU Dody Hanggodo berdiskusi dengan para petani

Photo :

  • VIVA/Siska Permata Sari

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan program pompanisasi sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi kekeringan, terutama setelah periode Oktober ketika pasokan air dari waduk mulai menurun.

“Nanti sekitar bulan Mei atau Juni kita akan memulai program pompanisasi di beberapa tempat. Kemudian insya Allah 2026 swasembada pangan tetap akan terjamin sebesar apa yang kita lakukan di 2025,” ujar Dody.

Menurutnya, koordinasi dengan Kementerian Pertanian terus dilakukan untuk memastikan kesiapan menghadapi musim kemarau panjang. Pompa-pompa air akan digunakan untuk mengairi sawah yang tidak lagi mendapatkan suplai air dari bendung atau bendungan.

Meski ada potensi penurunan ketersediaan air, pemerintah memastikan kondisi tersebut tidak akan memicu krisis pangan. Dody menegaskan bahwa langkah antisipatif sudah disiapkan sejak dini.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Insya Allah nggak ada (krisis pangan),” kata Dody saat menanggapi potensi krisis pangan setelah musim kemarau.

Ia menambahkan, pemerintah juga menyiapkan opsi lain seperti operasi modifikasi cuaca untuk menjaga ketersediaan air di bendungan. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan ribuan hektare lahan pertanian tetap dapat diairi.

Halaman Selanjutnya

Di sisi lain, Dody mengingatkan pentingnya efisiensi penggunaan air melalui pembangunan jaringan irigasi tersier. Dengan sistem tersebut, distribusi air dapat lebih merata sehingga luas lahan yang diairi bisa meningkat.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |