Jakarta, VIVA – Timnas Indonesia memang tampil meyakinkan saat membantai Saint Kitts and Nevis dengan skor 4-0. Namun di balik kemenangan itu, pengamat sepak bola Tommy Welly atau yang akrab disapa Bung Towel justru melihat adanya catatan serius, terutama di lini depan.
Jelang laga final FIFA Series 2026 antara Timnas Indonesia melawan Bulgaria di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Senin 30 Maret 2026 pukul 20.00 WIB nanti malam, Bung Towel menegaskan skuad Garuda tidak perlu bermain bertahan total.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Enggak ada alasan untuk pragmatis. Enggak ada. Artinya begitu ya, dia menang besar tapi kan dari Solomon. Jadi yang penting analisis tim Indonesia, kepelatihan kita terhadap kualitas Bulgaria seperti apa,” buka Bung Towel dikutip tvOne.
Ia juga menyoroti fleksibilitas taktik pelatih Timnas Indonesia, John Herdman. Menurutnya, saat melawan Saint Kitts and Nevis, Indonesia sempat bermain dengan tiga bek yang diisi Elkan Baggott, Jay Idzes, dan Rizky Ridho, serta peran Kevin Diks yang cukup dinamis.
Pengamat sepak bola Indonesia, Tommy Welly atau yang akrab disapa Bung Towel
Bung Towel menilai, pendekatan taktik tersebut belum tentu kembali digunakan saat menghadapi Bulgaria. Ia ingin melihat apakah Herdman memiliki variasi lain untuk merespons karakter permainan lawan yang berbeda.
Di lini tengah, ia menyebut Calvin Verdonk kemungkinan tetap menjadi pilar utama. Namun, posisi pendampingnya masih terbuka, apakah akan diisi Jordi Amat atau Joey Pelupessy, tergantung kebutuhan tim.
Sorotan paling tajam kemudian ia arahkan ke lini depan. Menurutnya, penggunaan dua striker menjadi hal menarik karena sudah lama tidak diterapkan di Timnas Indonesia.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Duet Ramadhan Sananta dan Ole Romeny dinilai cukup menjanjikan, terutama karena peran Ole yang mampu menjadi penghubung serangan. Ia mencontohkan gol Beckham Putra yang berawal dari assist Ole, serta pola direct pass yang membuat serangan Indonesia lebih cepat. Namun, masalah muncul saat pergantian pemain di babak kedua.
“Menurut saya ini alarm buat kedua pemain ini. Belum kompak sama sekali ya. Bukan soal kompak, menurut saya secara kualitas Ragnar misalnya ini agak menurun dibandingkan Ragnar yang kita lihat di fase ronde tiga kualifikasi Piala Dunia waktu bikin gol ke Vietnam,” kata Bung Towel.
Halaman Selanjutnya
Ia menilai Ragnar saat ini tidak menunjukkan intensitas seperti sebelumnya, terutama dari sisi kekuatan fisik, kecepatan, dan akselerasi. Sementara itu, Zijlstra dinilai masih memiliki banyak kekurangan sebagai seorang striker, meski sempat mencetak gol debutnya.

3 weeks ago
17



























