Kisah Mak Netty Usia di Atas 50 Tahun Jadi Driver Ojol, Benar-benar Cerminan Kartini Masa Kini

3 days ago 8

Rabu, 22 April 2026 - 22:32 WIB

Jakarta, VIVA – Peringatan Hari Kartini setiap 21 April selalu menghadirkan cerita-cerita inspiratif tentang perempuan Indonesia yang tangguh dalam menghadapi kehidupan. Tahun ini, kisah tersebut datang dari dua sosok dengan latar belakang berbeda, namun memiliki benang merah yang sama: keberanian untuk bangkit di tengah keterbatasan.

Salah satunya adalah Mak Netty, seorang pengemudi ojek online yang memulai pekerjaannya di usia lebih dari 50 tahun. Keputusan itu bukan tanpa alasan. Setelah sebelumnya berhenti bekerja untuk merawat orang tua, ia harus kembali mencari penghasilan ketika suaminya jatuh sakit dan membutuhkan biaya pengobatan rutin. Scroll untuk tahu cerita lengkapnya, yuk!

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam situasi yang tidak mudah, Mak Netty tetap melaju—secara harfiah dan juga dalam hidupnya. Ia mengandalkan pekerjaannya di jalanan untuk menopang kebutuhan keluarga, bahkan di tengah pandangan miring dari sebagian orang di sekitarnya.

"Selama pekerjaannya baik dan tidak melanggar aturan, kenapa harus malu? Yang penting kita semua bisa membantu kehidupan keluarga," ujar Mak Netty, dalam keterangannya, dikutip Rabu 22 April 2026. 

Meski kini harus menjalani hidup sendiri setelah sang suami berpulang, ia tetap memilih untuk mandiri. Baginya, bekerja bukan hanya soal penghasilan, tetapi juga harga diri dan kemandirian.

“Selama saya masih diberi kesehatan dan tenaga, saya akan terus bekerja. Saya tidak ingin merepotkan siapa pun, termasuk anak saya yang sudah berumah tangga. Saya tidak mau mengganggu,” katanya.

Semangat serupa juga terlihat dari Fitri Farhatani, seorang pelaku usaha rumahan di Serang, Banten. Perjalanannya dimulai dari titik yang sangat sulit, ketika tabungan keluarga sebesar Rp120 juta raib akibat penipuan digital. Kondisi tersebut sempat mengguncang kehidupan rumah tangganya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Namun dari keterpurukan itu, Fitri memilih untuk bangkit. Dengan modal Rp200 ribu, ia mulai berjualan makanan dari dapur rumah kontrakan. Siapa sangka, di hari pertama, seluruh dagangannya habis dalam waktu singkat.

“Awalnya saya berharap bisa dapat Rp50 ribu sampai Rp100 ribu sehari, itu saja sudah Alhamdulillah. Tapi ternyata usaha ini bisa jadi harapan baru untuk keluarga kami,” ujar Fitri.

Halaman Selanjutnya

Usaha kecil itu perlahan berkembang, bahkan menjadi titik balik dalam kehidupannya. Tidak hanya membantu kondisi finansial keluarga, tetapi juga memperbaiki hubungan rumah tangga yang sempat renggang. Kini, dari dapur sederhana, Fitri berhasil membangun usaha yang mampu menghidupi keluarganya, bahkan membeli rumah secara tunai.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |