Senin, 30 Maret 2026 - 15:32 WIB
Jakarta, VIVA – Krisis energi dirasakan oleh berbagai negara. Setelah Filipina memberlakukan status darurat energi kini Korea Selatan mulai mempertimbangkan langkah tegas untuk membatasi penggunaan mobil pribadi dalam rangka menghemat bahan bakar mengingat pasokan energi terbatas imbas perang Iran.
Menteri Keuangan Korea Selatan, Koo Yun Cheol, menyatakan pemerintah tengah mengkaji kemungkinan memperluas pembatasan berkendara yang selama ini hanya berlaku bagi pegawai negeri agar bahan bakar minyak (BBM) mencakup masyarakat umum. Kebijakan ini dipicu akan diterapkan jika harga minyak global mencapai level US$120 per barel.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Kami sedang mempertimbangkan apakah akan memperluas sistem ini ke sektor swasta untuk mendorong kerja sama publik, tetapi kami berharap perang segera berakhir sehingga langkah-langkah seperti itu tidak diperlukan,” kata Menteri Keuangan Koo Yun Cheol kepada stasiun televisi Korea dikutip dari The Straits Times, Senin, 30 Maret 2026.
Harga minyak mentah Brent sempat melonjak hingga US$116,75 per barel pada Senin, 30 Maret 2026, didorong eskalasi konflik di Timur Tengah. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga telah menembus level US$100 per barel.
Ilustrasi Harga Minyak Dunia
Sebelumnya, Pemerintah Korea Selatan telah memberlakukan pembatasan mobil pribadi bagi aparatur sipil negara. Aturan ini mengatur frekuensi penggunaan kendaraan pribadi ke gedung pemerintah berdasarkan angka terakhir pelat nomor.
Jika kebijakan ini diperluas ke publik akan menjadi yang pertama sejak krisis Perang Teluk tahun 1991. Kebijakan ini juga mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pemerintah terhadap potensi guncangan energi yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Presiden Korsel, Lee Jae Myung, telah mengimbau masyarakat untuk menghemat penggunaan listrik serta beralih ke transportasi umum guna mengantisipasi kelangkaan energi. Korea Selatan merupakan salah satu negara importir utama minyak mentah sekaligus eksportir bahan bakar di kawasan Asia sehingga menjadi pihak yang menghadapi tekanan besar akibat lonjakan harga energi global.
Selain krisis BBM, Korsel juga menghadapi risiko inflasi meningkat, sementara pertumbuhan ekonomi terancam melambat seiring ketergantungan tinggi terhadap pasokan energi dari Timur Tengah.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak turut membebani biaya bahan baku industri serta memperburuk kondisi logistik global. Gangguan rantai pasok dan biaya pengiriman yang meningkat juga memberi tekanan tambahan terhadap kinerja perdagangan.
Australia Pangkas Pajak Bahan Bakar Atasi Kenaikan Harga BBM Imbas Konflik di Timur Tengah
Pemerintah Australia akan memangkas sementara pajak bahan bakar hingga setengahnya selama 3 bulan untuk mengatasi kenaikan harga akibat konflik di Timur Tengah.
VIVA.co.id
30 Maret 2026

3 weeks ago
8



























