Analis: Harga BBM Non Subsidi Berpotensi Naik Bulan April

3 weeks ago 12

Selasa, 31 Maret 2026 - 00:06 WIB

Jakarta, VIVA – Di tengah keterbatasan pasokan energi di berbagai negara, termasuk Indonesia, Analis Phintraco Sekuritas memproyeksi harga jual bahan bakar minyak (BBM) non subsidi di Tanah Air akan naik pada bulan April 2026. Pandangan ini sejalan dengan informasi yang beredar di media sosial.

Dari informasi yang beredar, harga jual BBM jenis Pertamax akan menjadi Rp 17.850 per liter atau naik Rp 5.550 per liter dari harga jual semula pada Maret 2026 yang senilai Rp 12.300 per liter. Lonjakan harga eceran BBM nonsubsidi ini disanylir menyusul melemahnya nilai tukar rupiah Rp 16.819 per dolar AS menjadi Rp 16.877 per dolar AS.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Melansir VIVA, kenaikan harga juga terjadi pada Pertamax (RON 92) juga dipengaruhi oleh lonjakan harga indeks pasar (HIP) BBM RON 92 sebesar 62,44 persen atau US$46,15 per barel, dari US$73,91 per barel menjadi US$120 per barel; atau naik 62,99 persen (sekitar Rp 4.925 per liter) dari Rp 7.818 per liter menjadi Rp 12.744 per liter. 

Kemudian Pertamax Green 95 naik dari Rp 12.900 per liter, naik menjadi Rp 19.150 per liter. Selanjutnya, produk bensin Pertamax Turbo naik dari Rp 13.100 per liter naik menjadi Rp 19.450 per liter. 

Sementara itu, Tim Analis Phintraco Sekuritas membeberkan faktor kenaikan harga BBM dipicu tekanan harga minyak dunia. Mengutip CNBC Internasional, harga minyak mentah Brent naik 2,07 persen menjadi US$114,90 per barel pada perdagangan Senin, 30 Maret 2026. Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate melonjak 1,37 persen menjadi US$101,01 per barel.

“BBM non-subsidi diperkirakan berpotensi mengalami kenaikan pada saat penyesuaian harga bahan bakar bulanan diumumkan pada 1 April 2026,” tulis Tim Analis dalam risetnya dikutip Senin, 30 Maret 2026. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kondisi ini, kata Tim Analis Phintraco Sekuritas, mendorong pemerintah menyiapkan berbagai langkah mitigasi untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik. Saat ini tengah, pemerintah sedang merancang skema efisiensi anggaran, termasuk opsi penerapan work from home (WFH) guna menekan dampak lonjakan harga energi terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Pemerintah disebut mengidentifikasi tiga sektor utama yang rentan terdampak, yakni stabilitas energi, rantai pasok global, serta pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Untuk meredam tekanan tersebut, sejumlah langkah strategis tengah disiapkan, termasuk penghematan energi dan penguatan mandat biodiesel hingga 50 persen (B50).

Halaman Selanjutnya

Langkah ini diambil sebagai upaya untuk menahan kenaikan harga BBM subsidi yang berpotensi memicu lonjakan inflasi serta memperlebar defisit APBN. Dengan menjaga harga BBM subsidi tetap stabil, pemerintah berupaya menjaga daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian global.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |