Diam-diam Mematikan, Ini yang Terjadi pada Sel Otak Saat Stroke Menyerang

14 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Stroke masih menjadi ancaman serius di Indonesia. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensinya mencapai 8,3 per 1.000 penduduk. Namun, yang sering luput dari perhatian bukan hanya serangan awalnya, melainkan kerusakan lanjutan yang terjadi secara diam-diam di tingkat sel otak.

Dokter spesialis neurologi dari RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr. Mohammad Kurniawan, Sp.N(K), MSc menjelaskan bahwa saat stroke terjadi, aliran darah ke otak terganggu. Kondisi ini membuat suplai oksigen dan nutrisi terhenti, memicu krisis energi pada sel.

Dalam hitungan menit, sel-sel otak mulai mengalami gangguan fungsi. Jika tidak segera ditangani, kerusakan ini bisa berkembang menjadi kematian sel yang memperparah kondisi pasien.

Pada fase akut stroke, sel otak berada dalam kondisi sangat rentan. Gangguan pada mitokondria, bagian sel yang berfungsi menghasilkan energi, menjadi salah satu pemicu utama.

Ketika produksi energi menurun drastis, sel tidak mampu mempertahankan fungsinya dan mulai mengalami kerusakan permanen. "Fase ini sangat krusial dalam menentukan masa depan pasien," kata Kurniawan.

Untuk menjawab tantangan tersebut, lanjut Kurniawan, pendekatan terapi kini tidak hanya berfokus pada penyelamatan nyawa, tapi juga perlindungan sel otak. Salah satu upaya yang dikembangkan adalah terapi neuroprotektor, yang bekerja dengan mendukung metabolisme dan respirasi seluler.

PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) menghadirkan Cytoflavin sebagai salah satu terapi yang dirancang untuk membantu menjaga viabilitas sel otak. Dalam kondisi iskemik, terapi ini bekerja dengan meningkatkan efisiensi pemanfaatan oksigen dan mendukung pembentukan energi di tingkat sel. Tujuannya adalah memperlambat kerusakan jaringan otak selama fase kritis hingga awal pemulihan.

Direktur PYFA, Antes Eko Prasetyo, menyoroti bahwa kebutuhan akan inovasi terapi semakin mendesak, terutama karena tren stroke kini mulai bergeser ke usia produktif.

"Melalui distribusi Cytoflavin, kami ingin memastikan para tenaga kesehatan di Indonesia memiliki akses terhadap opsi terapi yang tepat untuk mendukung proses pemulihan pasien stroke secara optimal," ujarnya.

Pendekatan berbasis dukungan metabolik ini dinilai penting mengingat tingginya angka disabilitas pasca-stroke. Banyak pasien yang harus menghadapi penurunan kualitas hidup jangka panjang akibat kerusakan otak yang tidak tertangani secara optimal di fase awal.

"Inovasi farmasi dengan presisi seperti inilah yang dibutuhkan untuk memberikan dukungan terbaik bagi pasien yang memerlukan tatalaksana intensif seperti stroke di fase akut," kata Kurniawan.

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |