Jakarta, VIVA – Bukan sekadar film aksi militer biasa. The Hostage’s Hero berpijak pada peristiwa nyata yang pernah menegangkan perairan Selat Malaka lebih dari dua dekade lalu, sebuah operasi senyap yang berhasil menyelamatkan 36 nyawa dari tangan perompak bersenjata.
Gagasan mengabadikan kisah ini ke layar lebar datang langsung dari pucuk pimpinan TNI Angkatan Laut. Taufiqoerrochman mengungkapkan, inisiatif awal berasal dari Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali. Scroll untuk tahu cerita lengkapnya!
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Kalau cerita, jadi mungkin ini diawali dengan inisiatif Kasal untuk mengangkat kisah ini menjadi film ya. Ditugaskanlah produser dengan sutradara ke tempat saya, ke Sukabumi itu. Kemudian saya cerita, ya dari cerita melengkapi dari buku, dibuatlah skrip,” kata Laksamana Madya TNI (Purn.) Taufiqoerrochman dalam jumpa pers di Epicentrum, Jakarta Selatan, Senin 30 Maret 2026.
Proses penulisan skenario melibatkan langsung dua perwira senior: Taufiqoerrochman sendiri, serta Kepala Dinas Sejarah Angkatan Laut (Kadisjarahal) Laksamana Pertama TNI I Made Wira Hady Arsanta Wardhana. Keduanya memastikan film ini tidak kehilangan akar sejarahnya, sekaligus tetap menarik bagi penonton awam.
“Jadi kami akan padukan— ini kata-katanya, padukan bahasa operasi dengan bahasa sineas. Ketemulah itu. Makanya saya tahu persis itu yang dilaksanakan. Kemudian kami tulis, saya sendiri yang nulis itu ya, kemudian diolah oleh sutradara,” jelas Taufiqoerrochman.
Purnawirawan bintang tiga itu sadar betul bahwa film layar lebar butuh sentuhan drama agar tidak terasa seperti tayangan dokumenter kaku. Karena itu, ia memberi ruang kepada sineas untuk mengolah alur, asal garis merah sejarahnya tidak bergeser.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Kalau murni cerita saya kan dokumenter gitu, bukan lagi tontonan, nanti di museum saja gitu. Tapi karena untuk di bioskop, maka saya serahkan ke insan perfilman. Saya kan enggak tahu, tapi saya kasih garis merahnya ini,” tambahnya.
Di sela jumpa pers, Taufiqoerrochman juga berbagi soal kompleksitas pengamanan wilayah laut yang jauh berbeda dari daratan. Laut, menurutnya, punya karakter unik: tidak ada batas fisik yang kasat mata.
Halaman Selanjutnya
“Laut itu agak unik gitu ya. Kalau di darat ada batas wilayah, makanya demarkasi kan, ada mark gitu, ada tugu, ada dan sebagainya. Kalau di laut ada enggak tuh? Maka adalah delimitasi. Jadi pembatasan di sini, di sini koordinat sekian gitu kan,” paparnya.

3 weeks ago
6



























