Jakarta, VIVA – Harga minyak dunia naik lagi di tengah memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Pasar merespons keras pernyataan Presiden AS, Donald Trump, berisi ancaman keras akan membombardir infrastruktur sipil Iran jika Selat Hormuz tidak segera dibuka.
Penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan sebagai jalur vital distribusi minyak dunia yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman menjadi pemicu utama harga minyak mentah naik.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Sentimen pasar juga dipicu ultimatum Trump kepada Teheran bahwa AS siap melumpuhkan infrastruktur penting Iran jika tuntutannya tidak dipenuhi.
Pada Senin, 6 April 2026, Trump bertekad akan menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan apabila Iran tidak membuka kembali Selat Hormuz sebelum pukul 8 malam ET pada Selasa, 7 April 2026. Pernyataan ini ia lontarkan sambil memberi sinyal bahwa kepemimpinan Iran sedang bernegosiasi dengan sungguh-sungguh dengan pihaknya.
“Mereka punya waktu sampai besok. Kita lihat saja apa yang terjadi. Saya bisa katakan, mereka sedang bernegosiasi, kami pikir dengan itikad baik. Kita akan segera mengetahuinya,” ujar Trump.
Melansir CNBC Internasional pada Selasa, 7 April 2025, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei tercatat naik 0,93 persen ke level US$113,46 atau sekitar Rp 1.884.507,36 (estimasi kurs Rp 17.080 per dolar AS) per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent melonjak 0,54 persen menjadi US$110,36 atau sekitar Rp 1.886.052,40 per barel.
Trump sesumbar dapat menghancurkan Iran dalam satu malam jika pemimpin Teheran gagal membuka kembali jalur pelayaran tersebut. Penutupan Selat Hormuz sejak pecahnya konflik pada 28 Februari 2026 telah memicu guncangan pasokan sehingga menyebabkan lonjakan harga minyak mentah, avtur, solar, hingga bensin melonjak tajam akibat terganggunya distribusi energi global.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Chief Economic Strategist Annex Wealth Management, Brian Jacobsen, menilai tekanan dari AS akan terus meningkat seiring mendekati tenggat waktu. Menururnya, selama jalur energi utama itu belum sepenuhnya pulih, harga minyak diperkirakan tetap berada dalam tekanan naik dan volatilitas tinggi sehingga pelaku pasar global kini menanti kejelasan nasib Selat Hormuz.
“Seiring mendekatnya tenggat, Trump ingin memberi tekanan lebih besar agar kesepakatan bisa segera tercapai,” tutur Jacobsen
Halaman Selanjutnya
Di sisi lain, AS dan Iran dilaporkan tengah membahas kerangka kerja untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama lima minggu. Namun, peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat dinilai masih kecil.

4 hours ago
3











