Jakarta, VIVA – Pakar kebijakan publik Prof Andy Fefta Wijaya mengapresiasi keberhasilan Operasi Ketupat 2026 dalam mengamankan arus mudik dan arus balik Lebaran 2026. Keberhasilan operasi kemanusiaan ini tak terlepas dari sinergi dan kolaborasi lintas sektoral.
Pakar Kebijakan Publik Fakultas Ilmu Administrasi asal Universitas Brawijaya (UB) ini menegaskan, keberhasilan Operasi Ketupat 2026 di tingkat nasional tidak terlepas dari penerapan model tata kelola kolaboratif yang terintegrasi lintas sektor.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Menurutnya, pendekatan konvensional yang masih berbasis koordinasi administratif dan sektoral sudah tidak lagi memadai untuk menghadapi kompleksitas mobilitas masyarakat saat mudik Lebaran.
Oleh karena itu, diperlukan model yang lebih adaptif dan sistemik, yakni kolaborasi Governance Plus Multi Helix (GPMH), yang ia kembangkan sebagai pendekatan baru dalam tata kelola kebijakan publik.
"Kolaborasi Governance Multi Helix merupakan pendekatan tata kelola yang mengintegrasikan aktor negara dan non-negara dalam suatu ekosistem kebijakan berbasis shared decision-making, guna merespons kompleksitas permasalahan publik yang tidak dapat diselesaikan secara sektoral," ujar Andy kepada wartawan, Selasa 31 Maret 2026.
Ia menjelaskan bahwa dalam konteks Operasi Ketupat 2026, konsep ini terefleksikan melalui keterlibatan berbagai aktor secara simultan dan saling terintegrasi, mulai dari pemerintah (Polri, Kementerian Perhubungan, pemerintah daerah), sektor bisnis (operator transportasi, pengelola jalan tol, dan penyedia energi), masyarakat, akademisi, hingga media.
Menurutnya, keberhasilan operasi tersebut menunjukkan bahwa ketika seluruh aktor bekerja dalam satu ekosistem kebijakan yang terhubung, maka negara mampu mengelola kompleksitas secara lebih efektif, tidak hanya bersifat reaktif tetapi juga prediktif dan adaptif.
"Selama ini tantangan utama kita adalah ego sektoral dan fragmentasi data antar lembaga. Namun dalam Operasi Ketupat 2026, mulai terlihat adanya integrasi sistem, kesamaan visi, dan pembagian peran yang lebih jelas. Ini menjadi bukti bahwa pendekatan Multi Helix bukan hanya konseptual, tetapi aplikatif dan terbukti efektif," jelasnya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ia menambahkan, penguatan integrasi data nasional, sistem kendali terpadu, serta pengelolaan berbasis koridor wilayah menjadi faktor penting yang memperkuat implementasi model tersebut di lapangan.
Ke depan, Andy menilai bahwa kolaborasi Governance Plus Multi Helix dapat menjadi model tata kelola nasional dalam berbagai sektor strategis lainnya, terutama dalam menghadapi permasalahan publik yang bersifat kompleks dan lintas batas kewenangan.
Halaman Selanjutnya
"Operasi Ketupat 2026 memberikan pembelajaran penting bahwa keberhasilan kebijakan publik di era modern sangat ditentukan oleh kemampuan negara dalam membangun kolaborasi yang terintegrasi dan berkelanjutan. Di sinilah kolaborasi Governance Plus Multi Helix menjadi kunci," pungkasnya.

3 weeks ago
8



























