Jakarta, VIVA – Ketegangan di jalur pasokan energi global mulai menekan Jepang sebagai salah satu negara importir minyak terbesar di dunia. Dampaknya diperkirakan tidak hanya pada harga bahan bakar, tetapi juga merembet ke barang kebutuhan sehari-hari.
Pemerintah Jepang memperketat pemantauan terhadap risiko gangguan pasokan minyak yang berasal dari Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu rute terpenting distribusi minyak global, sehingga setiap gangguan langsung berdampak pada harga dan ketersediaan energi.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Dalam kondisi ini, Jepang mulai memanfaatkan cadangan minyak nasional. Namun tekanan harga energi diperkirakan tidak berhenti di sektor transportasi, melainkan juga industri manufaktur dan barang konsumsi.
“Kami akan terus memantau kondisi saat ini terkait penawaran dan permintaan barang-barang penting serta harganya, dan akan merespons secara fleksibel serta tidak menutup kemungkinan apa pun,” kata Perdana Menteri Sanae Takaichi dalam sesi parlemen, dikutip dari The Japan Times, Selasa, 7 April 2026.,
Pemerintah menegaskan masih memantau ketat perkembangan harga dan pasokan energi, serta membuka ruang intervensi bila diperlukan. Hingga saat ini belum ada kebijakan pembatasan konsumsi yang diumumkan secara resmi.
Ketergantungan Jepang terhadap impor energi membuat negara tersebut sangat rentan terhadap gangguan pasokan global. Sekitar 94 persen impor minyak Jepang berasal dari luar negeri dan 93 persen di antaranya melewati Selat Hormuz.
Kondisi ini membuat ruang diversifikasi pasokan menjadi terbatas dalam jangka pendek. “Minyak mentah memiliki berbagai kualitas, mulai dari yang kental seperti aspal hingga jenis yang sangat ringan dan cair. Kilang-kilang Jepang dirancang khusus untuk mengolah minyak mentah dari Timur Tengah,” kata Go Matsuo, kepala Energy Economics and Society Research Institute.
Ketergantungan tersebut juga membuat Jepang sulit beralih cepat ke sumber minyak alternatif seperti Amerika Serikat karena perbedaan kualitas minyak dan biaya yang lebih tinggi.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Minyak ini, yang mencakup 94 persen dari total impor, dengan 93 persen melewati Selat Hormuz, juga lebih murah dibandingkan minyak mentah AS,” lanjut Matsuo.
Di tingkat global, International Energy Agency (IEA) memperingatkan bahwa krisis energi saat ini berada pada level yang sangat tinggi. “Krisis minyak dan gas saat ini yang dipicu oleh blokade Selat Hormuz lebih serius dibandingkan krisis pada 1973, 1979, dan 2002 jika digabungkan,” kata Kepala IEA Fatih Birol.
Halaman Selanjutnya
IEA juga menilai negara berkembang paling rentan terhadap lonjakan harga karena dampaknya langsung pada inflasi dan harga pangan. Di Jepang, dampak krisis diperkirakan meluas ke sektor petrokimia. Gangguan pasokan nafta berpotensi memicu kenaikan harga berbagai barang konsumsi.

4 hours ago
2











