Jakarta, VIVA – Emiten pertambangan batu bara, PT Bukit Asam Tbk (PTBA), melaporkan kinerja keuangan sepanjang tahun 2025 mengalami tekanan seiring lonjakan biaya operasional akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Perseroan mencatatkan penurunan laba bersih 43 persen secara year on year (yoy) menjadi Rp 2,93 triliun.
Sekretaris Perseroan, Eko Prayitno menuturkan, penurunan keuntungan dipicu oleh membengkaknya beban operasional terealisasi sebesar Rp 36,39 triliun atau naik sebesar 5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini seiring dengan peningkatan volume operasional, baik produksi batu bara yang naik 9 persen secara yoy serta angkutan melonjak 6 persen.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Selain itu, pencabutan subsidi komponen FAME pada Biodiesel serta kewajiban untuk menggunakan B40 juga berdampak pada harga BBM naik per liter melonjak 13 persen secara yoy. Maka secara otomatis berdampak pada peningkatan biaya bahan bakar yang digunakan oleh Perseroan, baik untuk kegiatan penambangan maupun angkutan kereta api. meningkat tajam dalam beberapa periode terakhir.
Perseroan juga mencatat lonjakan beban umum dan administrasi naik sebesar Rp 261,88 miliar atau 13 persen. Begitu juga, beban penjualan mengalami kenaikan sebesar 3 persen atau sekitar Rp 23,58 miliar.
Ilustrasi - Tambang batu bara
Meski demikian, Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail menilai, kinerja perseroan sepanjang tahun 2025 masih cenderung solid. Di mana perseroan berhasil membukukan perbaikan profitabilitas secara kuartalan didorong optimalisasi portofolio pasar ekspor dan peningkatan efisiensi biaya.
"Kinerja tersebut tercermin dari pertumbuhan volume produksi dan penjualan yang tetap positif," tutur Arsal dikutip dari keterangan tertulis pada Selasa, 7 April 2026.
PTBA membukukan pendapatan sebesar Rp 42,65 triliun selama periode tahun buku 2025. Volume penjualan tercatat meningkat 6 persen menjadi Rp 45,41 triliun.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Sejalan peningkatan jumlah produksi, PTBA mencatatkan
pertumbuhan produksi sebesar 9 persen yang juga diikuti dengan
kenaikan realisasi penjualan sebesar 6 persen. Porsi penjualan sampai dengan akhir Desember 2025 ini, penjualan domestik tercatat sebesar 54 persen sedangkan sisanya 46 persen merupakan ekspor dengan negara tujuan ekspor terbesar antara lain Bangladesh, India, Vietnam, Korea Selatan, dan Filipina.
Namun, pelemahan harga batu bara menyebabkan kerugian yang seharusnya cuan mengingat volume produksi naik. Newcastle Index yang turun 22 persen secara yoyo dan ICI-3 anjlok 16 persen berimbas pada pelemahan harga jual rata-rata yang tercatat turun 6 persen secara tahunan.
Halaman Selanjutnya
Arsal juga menyinggung tercapainya belanja modal (capital expenditure/capex) pada tahun buku 2025 yag sudah terealisasi sebesar 63 persen dari target tahunan atau sebesar Rp 4,55 triliun. Menurutnya, terpenuhinya target belanja modal menjadi fondasi penting dalam mendukung keberlanjutan serta pertumbuhan kinerja operasional perseroan ke depan.

3 hours ago
1











