Jakarta, VIVA - Selat Hormuz pada dasarnya tetap tertutup bagi sebagian besar kapal tanker minyak, dengan hanya sejumlah kecil yang diizinkan untuk melewati.
Akibatnya, terjadi kehilangan sekitar 11 juta barel minyak dan cairan petroleum per hari ke pasar global. Ini mewakili sedikit lebih dari 10 persen pasokan global.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Sekilas, gangguan sebesar 10 persen mungkin tidak terdengar seperti bencana. Namun, di pasar minyak, bahkan ketidakseimbangan 10 persen antara penawaran dan permintaan dapat memiliki dampak ekonomi yang sangat besar.
Dosen Sistem Energi dari Universitas Oxford, Inggris, Adi Imsirovic, membandingkannya dengan puncak pandemi Covid-19 pada 2020.
Selama lockdown global, jalanan yang kosong, pesawat yang tidak beroperasi, dan stasiun bus dan kereta api yang sepi menjadi hal biasa karena perjalanan dan aktivitas ekonomi runtuh.
Pada saat itu, permintaan minyak global turun sekitar 8 juta barel per hari, guncangan permintaan terbesar dalam sejarah. Situasi saat ini justru sebaliknya. Alih-alih penurunan permintaan yang drastis, dunia justru mengalami guncangan pasokan yang besar.
Namun, dampaknya pada kehidupan sehari-hari bisa jadi serupa: berkurangnya perjalanan, biaya transportasi yang lebih tinggi, aktivitas ekonomi yang lebih lambat, dan tekanan pada anggaran rumah tangga.
"Alasannya adalah karena pasokan dan permintaan minyak sangat tidak fleksibel dalam jangka pendek. Orang-orang masih perlu berkendara ke tempat kerja, barang-barang masih perlu diangkut, dan pesawat terbang masih membutuhkan bahan bakar," ungkapnya, seperti dikutip dari situs CNA, Selasa, 31 Maret 2026.
Ketika pasokan tiba-tiba turun, harga harus naik secara signifikan untuk memaksa permintaan turun. Untuk saat ini, pelepasan cadangan minyak darurat membantu meredam dampak awal, terutama di negara-negara maju.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Negara-negara anggota Badan Energi Internasional diwajibkan untuk menyimpan cadangan darurat yang setara dengan setidaknya 90 hari konsumsi minyak, dan beberapa negara juga memiliki cadangan minyak strategis.
Oleh karena itu, negara-negara seperti AS, China, dan Jepang dapat mengimbangi gangguan pasokan untuk jangka waktu terbatas. Namun, cadangan ini bukanlah solusi jangka panjang. Jika konflik berlanjut selama berbulan-bulan, bukan hanya beberapa minggu, persediaan akan habis.
Halaman Selanjutnya
Situasinya jauh lebih serius bagi negara-negara berkembang. Banyak negara di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan memiliki cadangan komersial yang sangat terbatas dan jauh lebih rentan terhadap gangguan pasokan dan lonjakan harga.

3 weeks ago
16



























