Selasa, 31 Maret 2026 - 22:12 WIB
VIVA – Rusia membuka peluang bagi perusahaan minyak nasional Indonesia, Pertamina, untuk membeli minyak dari negaranya seiring kenaikan harga minyak dunia akibat penutupan Selat Hormuz. Hal tersebut disampaikan Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergei Tolchenov di Jakarta, Selasa, 31 Maret 2026.
"Presiden (Vladimir Putin) kami telah berkali-kali menyampaikan, terutama bagi negara-negara sahabat, kami siap bekerja sama di bidang minyak dan gas apabila mereka membutuhkan sesuatu," kata Dubes Tolchenov
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Tolchenov menyampaikan bahwa sebagai duta besar, ia belum menerima permintaan langsung dari Pertamina maupun dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia terkait pembelian minyak Rusia. Namun, ia memastikan Kedutaan Besar Rusia terbuka untuk mendiskusikan terkait pembelian minyak dari Rusia.
"Jadi, silakan hubungi kami, sampaikan kebutuhan Anda, dan kita akan diskusikan bagaimana hal itu dapat diwujudkan," ujarnya
Diplomat Rusia itu menekankan bahwa pembelian minyak Moskow tidak hanya terbuka untuk negara sahabat, melainkan juga untuk negara-negara yang tidak bersahabat, seperti negara di Eropa Barat.
"Jika mereka memiliki minat dan siap bekerja sama berdasarkan kontrak jangka panjang, kami juga bersedia memasok dan menjual minyak dan gas kepada mereka. Ini pada dasarnya adalah persoalan kebutuhan dan keinginan untuk bekerja sama dengan Rusia. Kami tidak pernah menolak siapa pun," tegasnya.
Adapun Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan Indonesia membuka peluang impor minyak dari berbagai negara, termasuk Rusia sebagai bagian dari strategi diversifikasi sumber energi di tengah ketidakpastian geopolitik kawasan Timur Tengah.
Menurut Bahlil, pemerintah tidak membatasi sumber impor hanya pada satu negara.
"Semua negara ada kemungkinan. Yang penting bagi kita sekarang adalah bagaimana barang ada, yang kedua harganya kompetitif. Itu yang paling penting," katanya di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ia menjelaskan impor minyak dari Rusia kini memungkinkan setelah Amerika Serikat membuka kembali akses pembelian minyak dari negara tersebut yang sebelumnya dikenai sanksi.
Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran, yang menyebabkan kerusakan serta korban di kalangan sipil. Iran kemudian merespons dengan melancarkan serangan ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Halaman Selanjutnya
Eskalasi di sekitar Iran tersebut telah menyebabkan blokade de facto di Selat Hormuz, jalur penting bagi pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global. Situasi ini juga memengaruhi tingkat ekspor dan produksi minyak di kawasan, sehingga mendorong kenaikan harga bahan bakar di sebagian besar negara di dunia. (ant)

4 hours ago
5











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)
