Jakarta, VIVA - Negara yang presidennya sahabat Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo atau Jokowi mengancam tidak akan memakai Dolar AS dan beralih ke Yuan China dalam perdagangan minyak mentah seiring dengan tekanannya kepada Washington DC untuk memberikan dukungan keuangan.
Negara tersebut adalah Uni Emirat Arab (UEA) di Timur Tengah. Gubernur Bank Sentral UEA, Khaled Mohamed Balama, menyampaikan apa yang digambarkannya sebagai "ancaman tersirat" terhadap posisi dominan Dolar AS selama pertemuan dengan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, di Washington DC, pekan lalu.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Kami memerlukan bantuan keuangan untuk mencegah krisis likuiditas Dolar AS jika dampak ekonomi dari perang AS melawan Iran terus meningkat. Jika (AS) tidak (bisa membantu) maka kami akan secepatnya beralih ke Yuan," katanya, seperti dikutip VIVA dari Russia Today, Rabu, 22 April 2026.
Teheran telah mengejar strategi tekanan asimetris yang bertujuan untuk meningkatkan biaya bagi Washington DC dan sekutunya. UEA menanggung beban terberat dari pembalasan Iran terhadap pangkalan militer AS dan lokasi bernilai tinggi lainnya, dengan lebih dari 2.800 drone dan rudal dilaporkan ditembakkan ke negaranya.
Departemen Keuangan AS dapat menawarkan pertukaran mata uang, meskipun jenis pengaturan ini biasanya ditangani oleh Federal Reserve (The Fed/Bank Sentral AS).
Kabarnya, persetujuan The Fed untuk UEA tidak mungkin terjadi dan mengutip preseden tahun lalu di mana paket dukungan senilai US$20 miliar (Rp343,4 triliun) diatur oleh Departemen Keuangan untuk Argentina menjelang pemilihan presiden (pilpres).
Pemerintahan Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengemukakan gagasan agar negara-negara Teluk sebagian menanggung biaya perang melawan Iran. AS diperkirakan sudah menghabiskan US$2 miliar (Rp34,34 triliun) per hari dalam 40 hari pertama konflik tersebut.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Frustrasinya negara-negara Arab terhadap kebijakan amburadul AS telah muncul dalam komentar publik dari tokoh-tokoh yang terkait dengan pemerintahan negara-negara Teluk.
Abdulkhaleq Abdulla, mantan penasehat Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan (MBZ), menyerukan agar pangkalan militer AS di negaranya ditutup, dengan alasan menjadi beban dan bukan aset strategis.
Halaman Selanjutnya
"Saya justru menganjurkan untuk memprioritaskan pengadaan persenjataan canggih AS sebagai strategi pertahanan nasional alternatif," jelas Abdulla. Sebagai informasi, Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan (MBZ) merupakan sahabat Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo atau Jokowi.

3 days ago
5



























