Pembeli Mobil Kredit Disebut Paling Rentan Saat Rupiah Melemah

6 hours ago 2

Kamis, 14 Mei 2026 - 01:50 WIB

Jakarta, VIVA - Pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh Rp17.500 per dolar AS mulai memunculkan kekhawatiran baru di industri otomotif nasional. Di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih, tekanan kurs dinilai bisa paling cepat dirasakan oleh konsumen pembeli mobil secara kredit.

Ekonom sekaligus Chief Economist Bank Permata, Joshua Pardede, menilai dampak pelemahan rupiah memang tidak langsung membuat penjualan mobil anjlok. Namun, jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu cukup lama, tekanan biaya pada akhirnya akan masuk ke harga jual kendaraan dan cicilan konsumen.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Dampaknya terhadap penjualan mobil bisa besar, tetapi belum tentu langsung membuat penjualan anjlok secara mendadak,” ujar Joshua saat dihubungi VIVA, Rabu 13 Mei 2026.

Menurut dia, produsen dan dealer saat ini masih memiliki sejumlah ruang untuk menahan kenaikan harga. Mulai dari memanfaatkan stok lama, memberi diskon, promosi, hingga mengurangi margin keuntungan sementara waktu agar pasar tetap bergerak.

Namun strategi tersebut tidak bisa berlangsung terus-menerus apabila nilai tukar rupiah bertahan lemah selama beberapa bulan.

“Bila rupiah bertahan lemah selama beberapa bulan, kenaikan biaya pada akhirnya akan masuk ke harga jual atau cicilan,” kata Joshua.

Ia menjelaskan, pasar otomotif Indonesia masih sangat sensitif terhadap perubahan uang muka, bunga kredit, dan besaran cicilan bulanan. Sebab sebagian besar pembelian mobil nasional masih mengandalkan skema pembiayaan atau kredit kendaraan bermotor.

Kondisi ini membuat kelompok kelas menengah dan pembeli mobil pertama menjadi pihak yang paling rentan terdampak.

“Jika pelemahan rupiah memaksa kenaikan harga mobil beberapa juta hingga belasan juta rupiah, segmen pembeli pertama, kelas menengah, mobil murah, dan pembelian berbasis kredit akan paling cepat terdampak,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Joshua menilai tekanan terhadap daya beli saat ini datang di waktu yang kurang ideal bagi industri otomotif. Penjualan kendaraan bermotor disebut belum benar-benar kuat, sementara konsumsi masyarakat juga mulai melambat.

Data penjualan ritel nasional pada April 2026 tercatat masih mengalami kontraksi tahunan sebesar 1,9 persen. Di sisi lain, data GAIKINDO Januari hingga April 2026 menunjukkan pasar otomotif masih bergerak, tetapi belum cukup kuat untuk menyerap kenaikan harga besar tanpa risiko perlambatan permintaan.

Halaman Selanjutnya

Menurut Joshua, konsumen saat ini tidak hanya berhadapan dengan potensi kenaikan harga kendaraan, tetapi juga kemungkinan bunga kredit yang tetap tinggi.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |