Jakarta, VIVA – Tekanan inflasi kembali menghantam ekonomi Jepang usai perang Iran memicu kekhawatiran baru terhadap lonjakan harga energi global. Inflasi inti Jepang tercatat naik untuk pertama kalinya dalam lima bulan terakhir pada Maret 2026.
Data pemerintah menunjukkan inflasi inti naik menjadi 1,8 persen pada Maret. Angka ini lebih tinggi dibandingkan Februari yang berada di level 1,6 persen dan sejalan dengan perkiraan ekonom yang disurvei Reuters.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Sementara itu, inflasi utama (headline inflation) tercatat sebesar 1,5 persen, naik dari 1,3 persen pada Februari. Meski meningkat, angka tersebut masih berada di bawah target inflasi 2 persen milik Bank of Japan (BOJ) selama dua bulan berturut-turut.
Adapun inflasi yang mengecualikan harga makanan segar dan energi, justru turun menjadi 2,4 persen dari sebelumnya 2,5 persen. Ini menjadi level terendah sejak Oktober 2024.
Lonjakan tekanan inflasi ini terjadi di tengah kekhawatiran terhadap kenaikan harga minyak mentah akibat konflik geopolitik di Iran. Pemerintah Jepang pun mulai menyiapkan berbagai langkah untuk meredam dampaknya terhadap masyarakat.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi sedang mempertimbangkan berbagai kebijakan untuk menahan lonjakan biaya bahan bakar, termasuk pembatasan harga bensin.
Tokyo juga telah melepas cadangan minyak mentah dari stok nasional untuk mengurangi potensi guncangan harga minyak global. Selain itu, subsidi bahan bakar sudah mulai digulirkan sejak Maret.
Takaichi berencana membatasi harga bensin rata-rata nasional di level 170 yen per liter atau sekitar US$1,07, setara Rp18.190 per liter (kurs Rp17.000 per dolar AS). Pemerintah memperingatkan bahwa tanpa intervensi, harga bensin bisa melonjak hingga 200 yen per liter atau sekitar Rp34.000 per liter.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Jika harga bensin benar-benar mendekati 200 yen dan dibatasi di level 170 yen, subsidi tersebut diperkirakan bisa menelan biaya sekitar 300 miliar yen per bulan. Berkat berbagai dukungan pemerintah, termasuk penghentian pajak bensin sementara, biaya energi tercatat turun 5,7 persen pada Maret.
Namun, analis dari Credit Agricole Corporate and Investment Bank (CACIB) memperingatkan bahwa risiko inflasi belum selesai. “Kenaikan harga minyak mentah yang didorong oleh risiko geopolitik diperkirakan akan memperumit pergerakan indikator harga,” ujarnya sebagaimana dikutip dari CNBC, Jumat, 24 April 2026.
Halaman Selanjutnya
Mereka menilai jika harga minyak tetap tinggi dan subsidi energi tidak diperluas, inflasi inti bisa naik mendekati 3 persen pada akhir tahun fiskal 2026.

1 week ago
5



























