Selasa, 7 April 2026 - 21:50 WIB
VIVA – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan pada hari Selasa bahwa lebih dari 14 juta warga Iran telah secara sukarela "mengorbankan nyawa mereka untuk membela negara."
"Lebih dari 14 juta warga Iran yang bangga, hingga saat ini, telah menyatakan kesediaan mereka untuk mengorbankan nyawa mereka untuk membela Iran. Saya juga telah, sedang, dan akan menjadi seorang yang berkorban untuk Iran," tulis Pezeshkian dalam sebuah unggahan di X dilansir Turkiye Today, Selasa, 7 April 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Televisi pemerintah Iran juga mengklaim pada hari Selasa bahwa 14 juta orang telah secara sukarela berperang jika AS dan Israel melakukan invasi darat. Klaim tersebut tidak menyertakan informasi pendukung lainnya.
Angka tersebut dua kali lipat dari klaim yang dibuat pada 2 April oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, yang menulis di X bahwa "kampanye nasional yang kuat yang melanda negara telah memunculkan sekitar 7 juta warga Iran yang telah maju dan menyatakan mereka siap untuk mengangkat senjata dan membela negara kita."
Ghalibaf menambahkan, "Kalian datang ke rumah kami... kalian akan bertemu seluruh keluarga. Siap tempur, siap tembak, dan berdiri tegak. Ayo, hadapi kami."
Jenderal IRGC menyerukan kepada orang tua untuk mengirim anak-anak mereka menjaga pos pemeriksaan militer di malam hari, tindakan yang oleh kelompok hak asasi manusia digambarkan sebagai kejahatan perang.
Jenderal Hossein Yekta, yang sebelumnya diidentifikasi sebagai pemimpin unit berpakaian sipil dari pasukan Basij yang semuanya sukarelawan, membuat seruan di televisi pemerintah Iran yang segera menarik perhatian internasional.
"Ibu-ibu, ayah-ayah, pegang tangan anak-anak Anda dan keluarlah ke jalan," kata Yekta.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Apakah Anda ingin anak Anda menjadi pria sejati? Biarkan dia merasa seperti pahlawan yang berdiri tepat di jantung medan perang. Para ibu, para ayah, di malam hari kirim anak-anak Anda untuk menjaga pos pemeriksaan. Mereka akan menjadi pria sejati!" tegasnya
Pos-pos pemeriksaan Basij telah berulang kali menjadi sasaran serangan udara. Basij telah menerima anak-anak berusia 12 tahun untuk menjaga pos-pos tersebut, dan Amnesty International telah memperingatkan bahwa beberapa di antaranya bahkan membawa senjata api, menyebut perekrutan mereka sebagai kejahatan perang.
Halaman Selanjutnya
Media pemerintah dan kampanye pesan teks telah mendesak masyarakat untuk menjadi sukarelawan.

4 hours ago
1











