Rupiah Melemah ke 17.245 di Tengah Tekanan Jatuh Tempo Utang Terbesar Pemerintah Rp 833,96 Triliun

2 days ago 7

Kamis, 23 April 2026 - 09:56 WIB

Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 17.179 pada Rabu, 22 April 2026. Posisi rupiah itu melemah 37 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 17.142 pada perdagangan Selasa, 21 April 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara perdagangan di pasar spot pada Kamis, 23 April 2026 hingga pukul 09.03 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.245 per dolar AS. Posisi itu melemah 64 poin atau 0,37 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.181 per dolar AS.

Ilustrasi mata uang Rupiah.

Photo :

  • Pixabay/IqbalStock

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pemerintah Indonesia menghadapi tekanan likuiditas besar pada 2026, seiring jatuh tempo utang yang mencapai Rp 833,96 triliun dan merupakan level tertinggi dalam satu dekade terakhir.

"Lonjakan kewajiban ini menandai fase krusial dalam pengelolaan fiskal, di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan dan ketidakpastian pasar keuangan global," kata Ibrahim dalam keterangannya, Kamis, 23 April 2026.

Penomena ini disebut sebagai "tembok utang" atau (debt wall), yakni kondisi ketika beban jatuh tempo utang menumpuk dalam satu periode tertentu. Nilai jatuh tempo 2026 bahkan lebih tinggi dibandingkan 2025 yang sebesar Rp 800,33 triliun, dan menjadi puncak dalam siklus pembayaran utang periode 2025–2036. 

Tekanan ini tidak muncul secara tiba-tiba. Besarnya kewajiban tersebut merupakan akumulasi penerbitan utang pada tahun-tahun sebelumnya, termasuk skema burden sharing antara pemerintah dan Bank Indonesia selama pandemi COVID-19.

Dari total jatuh tempo 2026, sekitar Rp 154,5 triliun berasal dari instrumen hasil kerja sama tersebut. Besarnya volume utang yang harus dibayar memaksa pemerintah melakukan strategi pembiayaan ulang (refinancing) dalam skala besar. Namun, langkah ini tidak lepas dari risiko. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain itu, Bank Indonesia kembali menahan suku bunga acuan alias BI Rate di level 4,75 persen, suku bunga Deposit Facility di level 3,75 persen, dan suku bunga Lending Facility juga tetap di 5,5 persen.

Keputusan ini masih konsisten dengan upaya meningkatkan efektivitas strategi penyesuaian struktur suku bunga instrumen operasi moneter, dalam memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi perekonomian global akibat perang di Timur Tengah.

Halaman Selanjutnya

"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.180-Rp 17.220," ujarnya.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |