Rupiah Menguat di Tengah Wacana Efisiensi Anggaran dan Dinamika Geopolitik Timur Tengah

3 weeks ago 14

Selasa, 31 Maret 2026 - 09:56 WIB

Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 16.993 per Senin, 30 Maret 2026. Posisi rupiah itu melemah 36 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 16.957 pada perdagangan Jumat, 27 Maret 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara perdagangan di pasar spot pada Selasa, 31 Maret 2026 hingga pukul 09.01 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 16.992 per dolar AS. Posisi itu menguat 10 poin atau 0,06 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.002 per dolar AS.

Ilustrasi mata uang Rupiah.

Photo :

  • Pixabay/IqbalStock

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, rencana pemerintah melakukan efisiensi anggaran perlu didukung oleh kombinasi kebijakan lain, agar efektif menjaga defisit APBN. Tekanan fiskal yang terjadi saat ini bersifat struktural, yang berasal dari subsidi energi, kenaikan biaya bunga utang, dan kebutuhan belanja prioritas.

"Karenanya, kebijakan efisiensi anggaran tidak bisa berdiri tunggal untuk menjaga defisit tetap terkendali, sehingga diperlukan kombinasi kebijakan," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Selasa, 31 Maret 2026.

Secara umum, ruang efisiensi anggaran pemerintah masih memadai, namun terbatas dan harus diterapkan secara selektif. Ruang efisiensi realistis hanya berasal dari belanja non-prioritas, mengingat struktur belanja yang makin ketat terutama untuk subsidi energi, belanja pegawai, dan bunga utang.

Pelaksanaan efisiensi anggaran pun perlu dipastikan tetap memenuhi syarat kualitas belanja, sehingga perannya tidak hanya sekadar penghematan.

Indikator utama yang dapat diperhatikan untuk menilai efektivitas pemangkasan anggaran mencakup peningkatan dampak program terhadap anggaran, perbaikan Incremental Capital Output Ratio (ICOR), pergeseran ke belanja produktif, serta stabilnya indikator makro seperti pertumbuhan di atas 5 persen dan inflasi terkendali.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain itu, penyerapan anggaran yang lebih merata sepanjang tahun juga menjadi sinyal penting. Jika efisiensi hanya menghasilkan underspending tanpa peningkatan output, maka dampaknya justru kontraktif bagi ekonomi.

Untuk mengimbangi tekanan itu, ruang optimalisasi kebijakan melalui peningkatan penerimaan, reprioritisasi belanja berbasis hasil (outcome), serta pengelolaan pembiayaan yang kredibel, dinilai perlu diterapkan secara bersamaan dengan implementasi efisiensi anggaran. Tanpa itu, efisiensi hanya menjadi bantalan jangka pendek, sementara tekanan defisit berpotensi meningkat di paruh kedua tahun.

Halaman Selanjutnya

"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.000-Rp 17.040," ujarnya.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |