VIVA – Setelah sebulan penuh menjalani disiplin spiritual selama Ramadhan, tidak sedikit orang yang kembali ke kebiasaan lama dan mulai meninggalkan amalan-amalan baik yang sebelumnya rutin dilakukan. Padahal, momen setelah Ramadhan justru menjadi momen menjaga kualitas ibadah.
Bulan Syawal hadir sebagai kesempatan untuk membuktikan konsistensi itu. Umat Muslim dianjurkan untuk tidak berhenti berbuat kebaikan, melainkan melanjutkan bahkan meningkatkan amal ibadah.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Selain puasa sunnah enam hari yang sudah banyak diketahui, ada beberapa amalan lain yang juga dianjurkan dan memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam. Apa saja? Berikut penjelasan lengkapnya, sebagaimana dirangkum dari MUI, Selasa, 31 Maret 2026.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Al-Baqarah [2]:183)
Makna “tattaqun” dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa tujuan puasa adalah membentuk ketakwaan yang terus menerus. Sebab itu, menjaga amalan baik setelah Ramadhan menjadi bagian penting dari proses spiritual seorang Muslim.
Berikut beberapa amalan yang dapat dilakukan di bulan Syawal selain puasa:
1. Mengganti I’tikaf yang Terlewat di Bulan Ramadhan
Tidak semua orang sempat melaksanakan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Bagi yang melewatkannya, Syawal bisa menjadi waktu untuk mengganti amalan tersebut sebagai bentuk kesungguhan dalam beribadah.
Hal ini berdasarkan hadits berikut:
فَتَرَكَ الِاعْتِكَافَ ذَلِكَ الشَّهْرَ ثُمَّ اعْتَكَفَ عَشْرًا مِنْ شَوَّالٍ.
“Kemudian Nabi tidak beri’tikaf pada bulan Ramadhan tersebut dan beri’tikaf sepuluh hari di bulan Syawal.” (HR. Bukhari)
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan anjuran untuk mengganti amalan sunnah yang terlewat. Bahkan, bagi yang sudah melaksanakan i’tikaf di bulan Ramadhan, tetap dianjurkan untuk melanjutkan kebiasaan ini sebagai bentuk menjaga kedekatan dengan Allah SWT.
2. Menikah di Bulan Syawal
Menikah di bulan Syawal termasuk amalan yang dianjurkan dan memiliki teladan langsung dari Rasulullah SAW. Hal ini sekaligus meluruskan anggapan keliru di sebagian masyarakat yang menghindari pernikahan di bulan ini.
Sebagaimana diriwayatkan:
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَوَّالٍ وَبَنَى بِي فِي شَوَّالٍ فَأَيُّ نِسَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ أَحْظَى عِنْدَهُ مِنِّي قَالَ وَكَانَتْ عَائِشَةُ تَسْتَحِبُّ أَنْ تُدْخِلَ نِسَاءَهَا فِي شَوَّالٍ
‘Aisyah dia berkata, “Rasulullah SAW menikahiku pada bulan Syawal, dan mulai berumah tangga bersamaku pada bulan Syawal, maka tidak ada di antara istri-istri Rasulullah SAW yang lebih mendapatkan keberuntungan daripadaku.” Periwayat hadits berkata, “Oleh karena itu, ‘Aisyah sangat senang menikahkan para wanita di bulan Syawal.” (HR. Muslim)
Halaman Selanjutnya
Hadits ini menunjukkan bahwa bulan Syawal bukan hanya boleh, tetapi juga baik untuk melangsungkan pernikahan.

3 weeks ago
10



























