Jakarta, VIVA – Perusahaan teknologi milik Michael Saylor, Strategy Inc. (MSTR), melaporkan kerugian fantastis akibat penurunan tajam harga Bitcoin. Selama kuartal I-2026, harga Bitcoin anjlok lebih dari 20 persen sehingga menjadi penurunan terbesar kuartalan terbesar sejak tahun 2018.
Melansir Yahoo Finance, Strategy mencatat kerugian belum terealisasi (unrealized loss) sebesar US$14,5 miliar atau setara sekitar Rp246,6 triliun (estimasi kurs Rp 17.010 per dolar AS). Kerugian merupakan akumulasi dari total kepemilikan aset kripto mencapai lebih dari US$50 miliar di neraca sehingga gejolak harga Bitcoin berdampak langsung terhadap laporan keuangan perusahaan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Kerugian juga disebabkan adopsi metode akuntansi nilai wajar (fair-value accounting) yag membuat fluktuasi harga langsung tercermin dalam laba rugi. Langkah ini meningkatkan volatilitas laporan keuangan, di mana pergerakan harga Bitcoin kini bisa memicu perubahan laba hingga miliaran dolar dalam waktu singkat.
Saat ini, harga aset digital paling berharga di dunia ini melesat sekitar 5 persen hingga menyentuh puncak harian di kisaran US$72.753 atau sekitar Rp 1,22 miliar. Lonjakan ini terjadi dalam hitungan jam setelah pengumuan gencatan senjata Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Meski mengalami tekanan, Saylor tetap melanjutkan strategi akumulasi aset kripto. Pada periode 1–5 April 2026, Strategy membeli 4.871 Bitcoin senilai sekitar US$330 juta, dengan harga rata-rata US$67.700 per koin.
Dana pembelian dari penjualan saham biasa Kelas A serta penerbitan saham preferen. Namun, posisi ini menjadi sorotan karena harga Bitcoin saat ini berada di bawah rata-rata harga beli perusahaan yang mencapai lebih dari US$75.000 per koin.
Di sisi lain, perusahaan mendapat sedikit penopang dari manfaat pajak tangguhan sebesar US$2,42 miliar. Meski begitu, strategi pendanaan ke depan dinilai semakin menantang.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Sebelumnya, Strategy mengandalkan penerbitan saham dengan premi terhadap nilai aset Bitcoin untuk mendanai pembelian tambahan. Kini, premi tersebut semakin menipis sehingga ruang pendanaan menjadi lebih terbatas.
Saylor mulai mengandalkan penerbitan saham preferen. Skema ini memang dapat mengurangi dilusi bagi pemegang saham biasa, tetapi membawa kewajiban tetap berupa imbal hasil tahunan sebesar 11,5 persen.
Halaman Selanjutnya
Ke depan, Strategy berencana menghimpun dana hingga US$42 miliar, masing-masing US$21 miliar dari saham biasa dan saham preferen untuk memborong Bitcoin. Namun, strategi ini sangat bergantung pada kenaikan harga Bitcoin agar dapat mengimbangi beban pendanaan yang terus meningkat.

4 hours ago
1











