Senin, 6 April 2026 - 15:00 WIB
VIVA –15 miliar dolar AS atau setara Rp 225 triliun telah dikeluarkan Israel selama perang melawan Iran dan kelompok Hizbullah di Lebanon. Angka ini diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan berlanjutnya pertempuran dan dampak ekonomi yang semakin terasa, demikian laporan surat kabar berbahasa Ibrani, Calcalist pada Minggu 5 April 2026.
Surat kabar Calcalist menyebutkan bahwa biaya perang yang sedang berlangsung dengan Iran dan Hizbollah telah mencapai sekitar 47 miliar shekel, atau setara dengan 15 miliar dolar AS (Rp 225 triliun).
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Surat kabar itu menyatakan, Kementerian Pertahanan Israel telah mengajukan permintaan dana sekitar 39 miliar shekel, atau 12,4 miliar dolar AS atau setara Rp 186 triliun, untuk menutupi pengeluaran militer. Jumlah ini diperkirakan akan bertambah jika perang terus berlanjut atau terjadi ronde konflik serupa di masa depan.
Menurut laporan tersebut yang dikutip dari laman Anadolu Agency, perang ini meningkatkan kemungkinan anggaran keamanan Israel meningkat dalam jangka panjang, berbeda dengan pengurangan anggaran yang sebelumnya diperkirakan saat persiapan menghadapi kemungkinan konfrontasi dengan Iran dan Hezbollah.
Di sisi sipil, sekitar 26.000 klaim kompensasi telah diajukan untuk kerusakan akibat serangan misil, dengan estimasi kerugian antara 1 miliar hingga 1,5 miliar shekel, atau sekitar 320 juta dolar AS atau setara Rp 4,8 triliun hingga 479 juta dolar AS atau setara Rp 7,185 triliun.
Namun, beban terbesar berasal dari rencana kompensasi untuk bisnis dan pekerja, yang diperkirakan mencapai antara 6,5 miliar hingga 7 miliar shekel, atau 2,1 miliar atau setara Rp 31,5 triliun hingga 2,23 miliar dolar AS atau setara Rp 33,45 triliun.
Laporan itu menambahkan, sekitar setengah miliar shekel, atau 160 juta dolar AS atau setara Rp 2,4 triliun juga dibutuhkan untuk menutupi pekerja yang ditempatkan dalam cuti tanpa gaji.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Surat kabar itu menyebutkan, pemerintah Israel kemungkinan akan mendorong pelonggaran pembatasan aktivitas ekonomi untuk membatasi kerugian dan mengurangi dampak perang terhadap perekonomian.
Sebagai informasi, perang ini bermula setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan bersama ke Iran pada 28 Februari, yang memicu beberapa minggu pertukaran misil dan eskalasi militer yang menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.
Halaman Selanjutnya
Di saat yang sama, Israel memperluas kampanye militernya di Lebanon setelah serangan lintas batas oleh Hezbollah pada 2 Maret, melakukan serangan udara dan ofensif darat meski gencatan senjata telah berlaku sejak November 2024.

3 weeks ago
8



























