Kamis, 26 Maret 2026 - 20:10 WIB
VIVA – Sekitar 1.900 kapal komersial dilaporkan tertahan di kawasan Selat Hormuz, terutama di wilayah Teluk Persia, sejak pecahnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran pada 28 Februari 2026.
Sejak serangan dimulai, Teheran secara efektif membatasi akses jalur pelayaran tersebut, khususnya bagi kapal yang berkaitan dengan negara penyerang. Kondisi ini membuat lalu lintas maritim di kawasan tersebut praktis terhenti.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Banyak kapal yang sebelumnya bersiap melintasi selat terpaksa menghentikan perjalanan dan menjatuhkan jangkar di perairan terbuka akibat meningkatnya ketegangan militer.
Pemerintah Iran menyatakan bahwa kapal dari negara lain tetap diperbolehkan melintas, selama tidak memiliki keterkaitan dengan Amerika Serikat maupun Israel, serta mematuhi aturan keselamatan yang berlaku.
Juru bicara komando terpadu angkatan bersenjata Iran dari Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaqari, Rabu (25/3/2026) menegaskan bahwa aturan pelayaran di Selat Hormuz telah berubah dan tidak akan kembali seperti sebelum konflik.
Data pelacakan kapal real-time dari MarineTraffic pada periode 20–22 Maret menunjukkan sekitar 1.900 kapal tidak dapat bergerak di kawasan tersebut.
Di antara kapal yang tertahan, terdapat ratusan kapal pengangkut komoditas penting, seperti kapal curah, tanker minyak mentah, kapal pengangkut produk minyak, hingga kapal kimia.
Perusahaan analisis energi Vortexa mencatat sekitar 190 juta barel minyak mentah dan produk turunannya berada di atas kapal tanker yang tertahan di kawasan tersebut.
Selain itu, berbagai jenis kapal lain seperti kapal kontainer, kapal kargo umum, kapal pengangkut LPG, hingga kapal angkut berat juga ikut terdampak.
Perusahaan pelayaran asal Jerman, Hapag-Lloyd, melaporkan bahwa enam armadanya tidak dapat beroperasi di Teluk Persia akibat situasi tersebut.
Tarif Angkutan Melonjak
Direktur analisis maritim dari Baltic and International Maritime Council, Filipe Gouveia, menyebut dampak terhadap pasar pelayaran global akan sangat bergantung pada sejumlah faktor.
Ia menjelaskan bahwa harga bahan bakar, durasi penutupan selat, serta jumlah kapal yang diizinkan melintas menjadi penentu utama kondisi pasar.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Menurutnya, ketegangan yang terjadi telah mendorong lonjakan tarif angkutan, terutama di sektor kapal tanker.
Data menunjukkan bahwa sejak 27 Februari, Baltic Dirty Tanker Index meningkat 49 persen, sementara Baltic Clean Tanker Index naik hingga 78 persen pada 20 Maret. Tarif angkutan di sektor kontainer juga mengalami kenaikan signifikan.
Halaman Selanjutnya
Lonjakan tersebut dipicu oleh meningkatnya biaya bahan bakar serta tambahan biaya darurat yang diberlakukan oleh perusahaan pelayaran.

6 hours ago
2











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)



