2 Negara Adikuasa Terus Ancam Jepang, 6 Alasan Tokyo Tidak Mengandalkan Pasukan Bela Diri

7 hours ago 4

loading...

Dua negara adikuasa terus ancam Jepang. Foto/X

TOKYO - Jepang telah memperkuat kemampuan pertahanannya selama bertahun-tahun, namun para pejabat kini menyatakan bahwa langkah tersebut harus dipercepat seiring memburuknya situasi keamanan regional.

Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi mengatakan pada hari Selasa (4 Agustus) bahwa Tokyo perlu memiliki "rasa urgensi dan krisis" yang lebih besar, mengingat buku putih pertahanan terbaru pemerintah menyoroti ancaman yang kian meningkat dari Tiongkok, Korea Utara, dan Rusia.

Upaya ini menuai kritik dari Beijing dan Pyongyang, yang menuduh Jepang meninggalkan prinsip-prinsip pasifis pascaperang.

Namun, Tokyo menegaskan bahwa tindakannya tetap bersifat defensif dan berada dalam batasan konstitusional. Lantas, apa sebenarnya yang mendorong peningkatan kekuatan militer Jepang—dan seberapa signifikankah hal tersebut?


2 Negara Adikuasa Terus Ancam Jepang, 6 Alasan Tokyo Tidak Mengandalkan Pasukan Bela Diri

1. Bukan Sekadar Kemampuan Bela Diri

Meskipun mendapat banyak perhatian, para ahli menyatakan bahwa langkah Jepang saat ini bukanlah "remiliterisasi" yang tiba-tiba, mengingat negara tersebut telah memiliki kemampuan bela diri selama beberapa dekade.

Melansir CNA, Jepang melepaskan hak untuk memiliki militer berdasarkan Pasal 9 konstitusinya—yang disusun oleh AS—setelah Perang Dunia II. Namun, negara itu membentuk Pasukan Bela Diri pada tahun 1954 untuk memastikan kemampuannya dalam melindungi diri sendiri.

"Secara hukum, Jepang tidak memiliki militer; negara ini memiliki Pasukan Bela Diri," ujar Jeffrey Hornung, seorang ilmuwan politik senior di RAND. "Jepang telah meningkatkan kemampuan pertahanannya selama lebih dari satu dekade. Apa yang kita lihat saat ini hanyalah kelanjutan dari tren tersebut."

2. Dipicu Perang Ukraina

Tahap ekspansi terbaru dimulai pada tahun 2022, dengan latar belakang invasi Rusia ke Ukraina, ketika Perdana Menteri saat itu, Fumio Kishida, menyerukan "peningkatan mendasar" pada kemampuan pertahanan.

Sejak saat itu, Jepang berkomitmen untuk meningkatkan belanja pertahanan hingga mencapai 2 persen dari PDB pada tahun 2027—sebuah target yang bahkan telah dicapai lebih cepat dari jadwal. Jepang juga telah mengakuisisi rudal jarak jauh.

Besaran belanja ini menandai pembangunan kekuatan militer terbesar Jepang sejak Perang Dunia II.

3. Hubungan dengan China, Korut dan Rusia Memburuk

Para ahli menyoroti dua faktor pendorong utama: lingkungan keamanan yang semakin mengancam serta ketidakpastian mengenai dukungan AS.

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |