Jakarta, VIVA – Anggota Komisi XII DPR RI, Dewi Yustisiana, menyampaikan apresiasi atas posisi Indonesia yang dinilai sebagai salah satu negara dengan tingkat ketahanan energi yang tangguh di tingkat global, sebagaimana tercermin dalam penilaian lembaga keuangan internasional JP Morgan.
"Ini merupakan pencapaian pemerintah menjaga stabilitas energi nasional di tengah dinamika global yang tidak menentu,” ujar Dewi dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 24 April 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ia juga memberikan apresiasi kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia yang dinilai konsisten dalam mengawal kebijakan sektor energi, baik dalam menjaga pasokan maupun memastikan kebijakan harga energi tetap berpihak kepada masyarakat.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa ketergantungan terhadap impor BBM masih menjadi tantangan struktural yang perlu diselesaikan secara bertahap melalui penguatan sektor hulu migas, peningkatan kapasitas kilang, serta percepatan hilirisasi energi.
“Ke depan, penguatan ketahanan energi harus terus dilakukan melalui diversifikasi sumber pasokan dan percepatan transisi energi, sehingga Indonesia tidak hanya tangguh dalam jangka pendek, tetapi juga mandiri dan berkelanjutan dalam jangka panjang,” tuturnya.
Di tengah ancaman krisis energi global yang kian kompleks, Indonesia justru muncul sebagai salah satu negara paling tangguh di dunia.
Laporan terbaru JP Morgan Asset Management bertajuk Eye on the Market bertajuk Pandora’s Bog: The Global Energy Shock of 2026 yang dirilis 21 Maret 2026 menempatkan Indonesia di posisi kedua global dalam ketahanan energi, mengungguli sejumlah negara besar seperti China dan Amerika Serikat.
Studi yang menganalisis 52 negara dengan kontribusi 82 persen konsumsi energi dunia itu menggunakan indikator total insulation factor—ukuran komprehensif yang mencerminkan kemampuan suatu negara memenuhi kebutuhan energi dari sumber domestik.
Indonesia mencatat skor 77 persen, hanya terpaut tipis dari Afrika Selatan 79 persen, serta berada di atas Tiongkok 76 persen dan Amerika Serikat 70 persen.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Fondasi ketahanan ini ditopang oleh dominasi energi domestik, terutama batu bara yang menyumbang sekitar 48 persen konsumsi energi nasional, diikuti gas bumi 22 persen dan energi terbarukan 7 persen.
Dalam laporan tersebut, Indonesia bahkan dikelompokkan bersama negara-negara seperti China, India, dan Afrika Selatan sebagai pihak yang paling diuntungkan dari ketersediaan batu bara domestik saat terjadi guncangan energi global.
Soal Pengenaan Tarif di Selat Malaka, Purbaya Singgung Soal UNCLOS & Kewajiban RI
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, pemerintah tidak pernah memiliki rencana untuk mengenakan tarif bagi kapal-kapal yang lewat melintasi Selat Malaka.
VIVA.co.id
24 April 2026

1 day ago
7



























