Jakarta, VIVA – Aset kripto termahal di dunia, Bitcoin, menunjukkan kinerja signifikan dibandingkan emas yang sempat tertekan selama tujuh bulan berturut-turut. Sejak titik terendah pada Maret 2026, Bitcoin telah pulih hampir 40 persen sehingga memicu optimisme pasar akan potensi reli besar dalam satu tahun ke depan.
Pendiri The Bitcoin Layer, Nik Bhatia, menilai fase pemulihan mulai terbentuk. Kebangkitan ini tercermin dari rasio Bitcoin terhadap emas (Bitcoin-to-gold ratio), indikator yang mengukur kinerja aset digital dibandingkan logam mulia, mencatatkan dua bulan kenaikan berturut-turut.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Pantulan sudah terjadi,” ucap Bhatia dikutip dari TipRanks pada Rabu, 6 Mei 2026.
Laporan dari Fidelity Investments menyebutkan bahwa Bitcoin saat ini telah memasuki fase akumulasi. Bahkan, mulai mengungguli kinerja emas.
Secara historis, lonjakan tajam pada rasio ini kerap muncul di akhir fase bearish dan menjadi sinyal awal reli besar. Dalam siklus sebelumnya terjadi pada tahun 2015, 2019, dan 2022, pola serupa menghasilkan kenaikan rata-rata hingga 180 persen dalam waktu satu tahun.
Apabila pola tersebut kembali terulang, harga Bitcoin berpotensi menembus US$167.250 atau sekitar Rp 2,9 miliar (estimasi kurs Rp 17.380 per dolar AS). Target ini diprediksi akan tercapai pada April 2027.
Sejumlah analis turut menaikkan proyeksi harga. Firma riset Bernstein memperkirakan Bitcoin bisa mencapai US$150.000 pada 2026 seiring pergeseran aliran dana dari emas ke aset digital.
Chief Investment Officer Bitwise, Matt Hougan, menilai kapitalisasi Bitcoin berpotensi melampaui pasar emas global yang bernilai sekitar US$30 triliun dalam jangka panjang.
Di balik optimisme ini, sejumlah indikator teknikal masih memberi sinyal kehati-hatian. Rasio Bitcoin terhadap emas saat ini masih berada di bawah rata-rata pergerakan jangka panjang yang selama ini menjadi penanda titik terendah pasar.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Pola rising wedge dalam grafik harian membuka peluang koreksi jangka pendek hingga 20 persen terhadap emas. Faktor eksternal juga menjadi risiko, termasuk tingginya harga minyak serta kebijakan suku bunga tinggi dari Federal Reserve yang dapat menekan aset berisiko.
Hingga pukul 15.45 WIB pada Rabu, 6 Mei 2026, harga Bitcoin berada di kisaran US$81.648,06 atau sekitar Rp 1,41 miliar. Level ini mencerminkan kenaikan 0,98 persen selama 24 jam terakhir.
Halaman Selanjutnya
Arah pergerakan Bitcoin selanjutnya masih sangat bergantung pada kombinasi sentimen pasar, kondisi makroekonomi, serta konfirmasi sinyal teknikal dalam beberapa waktu ke depan.

1 week ago
4











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364675/original/098242200_1759123308-padel_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5555113/original/019639800_1776143107-Mahasiswa_UI_diduga_lakukan_pelecehan_seksual__2_.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5556554/original/020780300_1776253850-BPJS_Kesehatan.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3301494/original/038090600_1605800346-Tips.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5030100/original/095728600_1732950329-ciri-ciri-urine-penderita-diabetes.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5457086/original/001907200_1766985704-mohammad-o-siddiqui-uXIx0Ss3b-c-unsplash.jpg)