Jakarta, VIVA - Lanskap ancaman siber di Indonesia kini berkembang semakin kompleks seiring meningkatnya adopsi kecerdasan buatan (AI) dan digitalisasi korporasi.
Whitepaper ini mencatat peningkatan AI-related fraud hingga 1.550 persen di sektor fintech Indonesia, termasuk penggunaan deepfake dan AI voice impersonation untuk penipuan berbasis identitas. Besarnya eksposur risiko tersebut turut berdampak pada kesiapan korporasi.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Cisco Cybersecurity Readiness Index 2025 menunjukkan hanya 11 korporasi di Indonesia yang dinilai siap menghadapi serangan siber modern, sementara rata-rata kerugian akibat kebocoran data dapat mencapai sekitar Rp15 miliar.
Di sisi lain, implementasi Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi atau UU PDP juga mendorong korporasi memperkuat kemampuan monitoring dan respons ketahanan siber secara real-time, termasuk memenuhi kewajiban pelaporan insiden dalam waktu 72 jam.
Indonesia tengah memasuki fase baru ekonomi digital. Nilai ekonomi digital nasional diproyeksikan mencapai US$340 miliar (Rp5.919 triliun) pada 2030, didorong oleh percepatan adopsi AI, cloud, IoT, fintech, dan sistem digital lintas industri. Meski begitu, risiko siber berkembang dengan skala dan kompleksitas yang semakin tinggi.
Sebagai mitra transformasi digital korporasi di berbagai sektor industri Indonesia, Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) melalui Indosat Business melihat langsung bagaimana percepatan transformasi digital turut memperluas tantangan keamanan siber yang dihadapi korporasi.
Kebutuhan tersebut kini tidak lagi hanya sebatas konektivitas dan teknologi, tetapi juga kemampuan membangun ketahanan siber yang adaptif, terintegrasi, dan siap menghadapi ancaman modern.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Indonesia sedang memasuki fase baru ekonomi digital, namun pertumbuhannya harus diiringi dengan ketahanan siber yang memadai. Cyber resilience bukan lagi isu teknologi semata, tapi pondasi kepercayaan dan keberlangsungan bisnis,” ungkap Director and Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Muhammad Buldansyah, di Jakarta, Senin, 11 Mei 2026.
Sementara itu, Deputy Head of Master IT Program, Swiss German University, Charles Lim, menambahkan jika serangan siber berkembang jauh lebih cepat dan semakin sulit dideteksi, terutama dengan munculnya AI-enabled fraud dan deepfake. "Korporasi perlu beralih dari pendekatan yang reaktif menuju cyber resilience yang lebih adaptif dan berkelanjutan," jelasnya.
IMF: Serangan Siber Tidak Hanya Incar Bank, Jaringan Telekomunikasi Bisa Mati Total
IMF menekankan serangan siber dapat menyebar di luar sektor keuangan karena bank telah berbagi pondasi digital dengan sektor energi, telekomunikasi, dan layanan publik.
VIVA.co.id
10 Mei 2026

2 days ago
2











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364675/original/098242200_1759123308-padel_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5555113/original/019639800_1776143107-Mahasiswa_UI_diduga_lakukan_pelecehan_seksual__2_.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5556554/original/020780300_1776253850-BPJS_Kesehatan.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3301494/original/038090600_1605800346-Tips.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5030100/original/095728600_1732950329-ciri-ciri-urine-penderita-diabetes.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5457086/original/001907200_1766985704-mohammad-o-siddiqui-uXIx0Ss3b-c-unsplash.jpg)