Jakarta, VIVA - Serangan siber terhadap sektor keuangan bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan fenomena global yang semakin kompleks seiring pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan generatif (generative AI).
Oleh karena itu, kolaborasi lintas sektor serta penguatan sistem keamanan menjadi kunci dalam menghadapi meningkatnya serangan siber di industri jasa keuangan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Founder and Group CEO Vida, Niki Santo Luhur, menjelaskan dalam beberapa tahun terakhir, pola serangan siber telah mengalami perubahan signifikan.
“Sebenarnya ini fenomena yang bukan hanya terjadi di Indonesia. Perkembangan generative AI luar biasa cepat sekali, dan secara global sepertinya belum ada yang benar-benar siap untuk mengantisipasi serangan yang menggunakan AI,” kata dia di Jakarta, Kamis, 7 Mei 2026.
Menurutnya, teknologi seperti deepfake yang sebelumnya masih bersifat eksperimental kini telah digunakan secara luas oleh pelaku kejahatan siber.
“Tiga tahun yang lalu masalah deepfake itu masih teori. Sekarang 80 persen dari serangan sudah menggunakan AI,” jelas Niki. Dalam konteks tersebut, ia menilai langkah pemerintah untuk memperkuat koordinasi antarlembaga sudah berada di jalur yang tepat.
Salah satunya melalui pembentukan satuan tugas anti penipuan daring Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) yang melibatkan berbagai pihak, termasuk Otoritas Jasa Keuangan, kementerian/lembaga, Bank Indonesia, hingga aparat penegak hukum.
“Dari sisi sistem pembayaran itu di bawah Bank Indonesia, kalau ada nomor yang palsu itu di bawah Kemkomdigi (Kementerian Komunikasi dan Digital), kalau ada situs yang palsu itu di bawah mereka. Ini harus semua nyambung. Kalau tidak, susah kita tahu yang mana yang asli dan yang mana yang palsu,” paparnya.
Di sisi lain, ia menilai industri keuangan perlu terus memperkuat investasi di bidang keamanan siber. Hal ini mengingat potensi kerugian akibat kejahatan siber tidak hanya dari sisi finansial, tetapi juga menyangkut kepercayaan publik.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Yang lebih penting adalah kepercayaan konsumen. Kalau itu sudah rusak, butuh puluhan tahun untuk membangun kepercayaan itu. Tapi bisa hilang kalau tidak ditangani dengan baik juga,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Niki menyebutkan bahwa regulator di berbagai negara, termasuk di kawasan Asia Tenggara, mulai meningkatkan standar keamanan siber, misalnya dalam proses verifikasi identitas dan autentikasi pengguna.
Halaman Selanjutnya
Menurutnya, kejelasan standar teknis menjadi penting agar pelaku industri memiliki acuan yang jelas dalam membangun sistem keamanan.

1 week ago
9











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364675/original/098242200_1759123308-padel_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5555113/original/019639800_1776143107-Mahasiswa_UI_diduga_lakukan_pelecehan_seksual__2_.jpeg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5556554/original/020780300_1776253850-BPJS_Kesehatan.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3301494/original/038090600_1605800346-Tips.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5030100/original/095728600_1732950329-ciri-ciri-urine-penderita-diabetes.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5457086/original/001907200_1766985704-mohammad-o-siddiqui-uXIx0Ss3b-c-unsplash.jpg)