Liputan6.com, Jakarta - Kasus campak kembali menjadi perhatian di Indonesia setelah adanya peningkatan jumlah suspek dalam beberapa bulan terakhir. Meski demikian, para ahli menilai kondisi ini masih dapat dikendalikan jika langkah pencegahan dan penanganan dilakukan secara cepat dan tepat.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) melaporkan terdapat 8.224 kasus suspek campak pada periode 1 Januari hingga 23 Februari 2026. Angka tersebut menunjukkan bahwa penyakit yang sangat menular ini masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat, terutama bagi anak-anak.
Pakar kesehatan anak Universitas Gadjah Mada (UGM), dr. Ratni Indrawanti, mengatakan, lonjakan kasus campak memang perlu disikapi secara serius. Namun, menurut Ratni, situasi ini belum sampai pada kondisi darurat kesehatan selama langkah pengendalian tetap berjalan dengan baik.
"Dari 8.000 kasus ini memang situasinya serius dan harus ditangani secara serius. Namun, selama kasus ini dapat ditangani dengan surveilans yang baik, penanganan kasus yang cepat, serta peningkatan cakupan vaksinasi, maka masih bisa dikendalikan dan tidak menimbulkan darurat kesehatan," ujar Ratni dikutip dari Antara pada Senin, 9 Maret 2026.
Menurut Ratni, salah satu faktor yang memicu meningkatnya kasus campak adalah menurunnya cakupan vaksinasi di masyarakat. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari keterbatasan akses layanan kesehatan hingga menurunnya kegiatan imunisasi di tingkat masyarakat.
Selain itu, penyebaran informasi yang keliru mengenai vaksin di media sosial juga ikut memengaruhi kepercayaan sebagian masyarakat terhadap program imunisasi.
Ratni menekankan bahwa campak tidak boleh dianggap sebagai penyakit ringan. Meskipun sering terjadi pada anak-anak, penyakit ini berpotensi menimbulkan komplikasi serius yang dapat mengancam keselamatan jiwa.
"Banyak masyarakat yang menyepelekan campak. Padahal jika tidak ditangani dengan baik, penyakit ini bisa menimbulkan komplikasi seperti pneumonia bahkan menyebabkan kematian," tambahnya.
Dia juga mengingatkan bahwa menunda vaksinasi dapat meningkatkan risiko penyebaran virus. Anak yang belum mendapatkan imunisasi tidak memiliki antibodi yang cukup untuk melawan virus campak.
Akibatnya, anak tersebut bukan hanya berisiko tertular penyakit, tetapi juga dapat menjadi sumber penularan bagi orang lain di sekitarnya.
"Jika vaksin ditunda, anak tidak memiliki antibodi dan berpotensi menularkan virus kepada orang di sekitarnya. Penundaan ini bukan hanya meningkatkan risiko, tetapi juga dapat memicu penularan yang lebih luas hingga menimbulkan kejadian luar biasa (KLB)," kata Ratni.
Campak dikenal sebagai salah satu penyakit dengan tingkat penularan yang sangat tinggi. Satu orang yang terinfeksi virus campak dapat menularkan penyakit ini kepada banyak orang dalam waktu singkat.
Ratni menjelaskan bahwa seorang anak yang terkena campak dapat menularkan virus tersebut kepada hingga 18 orang lainnya. Penularan terjadi melalui percikan droplet saat penderita batuk atau bersin.
Tidak hanya itu, virus campak juga mampu bertahan di udara dalam ruangan tertutup hingga sekitar dua jam setelah penderita meninggalkan tempat tersebut.
"Penularannya sangat cepat karena virus campak menyebar melalui udara. Dalam ruangan tertutup, virus ini bisa bertahan hingga dua jam dan berisiko menularkan kepada orang lain yang berada di sekitar," ujar Ratni.
Oleh sebab itu, Ratni menekankan pentingnya meningkatkan kembali cakupan imunisasi campak di masyarakat. Vaksinasi merupakan cara paling efektif untuk melindungi anak dari risiko infeksi sekaligus mencegah penularan yang lebih luas.
Dengan imunisasi yang lengkap, anak akan memiliki perlindungan yang lebih kuat terhadap virus campak. Langkah ini juga menjadi kunci penting untuk mencegah terjadinya wabah di masa mendatang.

4 hours ago
1
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515361/original/008587900_1772172176-18407.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3224892/original/066102300_1598938346-20200901-Imunisasi-Campak-Anak-Sekolah-Dasar-DWI-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5525224/original/010490400_1773034924-budi_gunadi__2_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3052757/original/013297300_1581937443-pied-myna-2781707_960_720.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3126824/original/021867300_1589355816-20200513-Dapur-Umum-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5525356/original/066714300_1773039273-menkes_mudik.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5230646/original/052216400_1748002715-steptodown.com747671.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5499413/original/036327500_1770785707-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4107467/original/072426000_1659334986-Bulan_Imunisasi_Anak_Nasional-Herman-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4212358/original/031108900_1667384841-9a8d3846-2297-4d73-bcc5-0dd3d1091ad6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5524099/original/013428400_1772891139-IMG_5937_1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5524947/original/056442400_1773025608-Wajah_dengan_Hiperpigmentasi.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5013589/original/069991600_1732075246-tips-sembuh-dari-gerd.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4746980/original/040857200_1708340464-fotor-ai-2024021917534.jpg)
![[Kolom Pakar] Prof Tjandra Yoga Aditama: Asma dan PPOK di Bulan Puasa Ramadan](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/WA19TQRea285pzGWFD7Nuh0aGmQ=/1200x675/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5524144/original/043213000_1772897020-Screenshot_2026-03-07_222325.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4323661/original/079653000_1676365983-hl.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5524190/original/093158000_1772919228-Vidi_Aldiano.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5330141/original/020576100_1756355628-SaveClip.App_523939144_18514757959022238_4442021098973062784_n.jpg)











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479806/original/021929400_1768990958-makanan_beku_sehat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500390/original/054028400_1770863825-IMG01145.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5124902/original/069816200_1738908499-glass-water-ai-generated.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)

