Kamis, 7 Mei 2026 - 06:00 WIB
VIVA – Mantan Presiden AS, Barack Obama mengungkapkan bahwa dirinya pernah menghadapi tekanan dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan berulang kali mencoba membujuknya untuk melancarkan konfrontasi bersenjata skala penuh dengan Iran selama masa pemerintahannya.
Dalam sebuah wawancara yang diterbitkan pada hari Senin oleh The New Yorker, Obama mengatakan Netanyahu menggunakan argumen dan pembenaran yang sama yang kemudian ia sampaikan kepada Presiden AS Donald Trump.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Obama mengatakan Netanyahu berupaya meyakinkannya agar berperang dengan Iran. Ia menilai, dalam perkembangan terbaru, pemimpin Israel tersebut akhirnya "mendapatkan apa yang diinginkannya". Meski demikian, Obama mempertanyakan apakah hasil tersebut pada akhirnya benar-benar menguntungkan warga Israel maupun Amerika Serikat.
Ia juga mencatat bahwa catatan sejarah dengan jelas menunjukkan perbedaan pendapat yang mendalam yang menandai hubungannya dengan Netanyahu mengenai masalah Iran. "Saya pikir ada catatan yang cukup tentang perbedaan saya dengan Netanyahu," kata Obama.
Di luar isu Iran, Obama menyoroti dampak pergeseran geopolitik global yang dinilainya dapat membawa konsekuensi jangka panjang terhadap stabilitas internasional. Ia menunjuk pada ketegangan yang terjadi dalam aliansi tradisional dan mengingatkan bahwa sistem internasional pasca Perang Dunia II, yang ditopang oleh lembaga seperti NATO, kini berada di bawah tekanan.
Obama juga membahas tantangan kepemimpinan global AS secara lebih luas. Ia berpendapat bahwa memulihkan kembali kepercayaan sekutu kemungkinan akan lebih sulit dibandingkan menyelesaikan persoalan domestik.
Menurutnya, pengaruh AS secara historis tidak hanya bertumpu pada kekuatan militer dan ekonomi, tetapi juga pada kredibilitas serta nilai-nilai yang dipegang. Kebijakan yang tidak konsisten, kata Obama, berisiko melemahkan fondasi tersebut.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ia menambahkan, tanpa keterlibatan aktif AS, isu-isu seperti hak asasi manusia cenderung kurang mendapat perhatian di panggung global.
Meski mengkritik perkembangan terkini, Obama menolak anggapan bahwa kebijakan luar negeri saat ini mencerminkan perubahan besar dalam opini publik AS. Ia menegaskan bahwa masih banyak warga Amerika yang mendukung pendekatan hubungan internasional seperti yang ia terapkan selama menjabat.
Trump Ultimatum Iran: Setujui Kesepakatan dalam 48 Jam atau Hadapi Serangan Militer Lebih Besar!
Trump ultimatum Iran: setujui kesepakatan damai dalam 48 jam atau hadapi serangan Epic Fury lebih dahsyat. Mediator Pakistan, harga minyak bergejolak.
VIVA.co.id
7 Mei 2026

1 week ago
9











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364675/original/098242200_1759123308-padel_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5555113/original/019639800_1776143107-Mahasiswa_UI_diduga_lakukan_pelecehan_seksual__2_.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5556554/original/020780300_1776253850-BPJS_Kesehatan.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3301494/original/038090600_1605800346-Tips.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5030100/original/095728600_1732950329-ciri-ciri-urine-penderita-diabetes.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5457086/original/001907200_1766985704-mohammad-o-siddiqui-uXIx0Ss3b-c-unsplash.jpg)