Milan, VIVA – Inter Milan akhirnya memastikan diri sebagai juara Liga Italia musim 2025–2026. Kepastian itu datang setelah Nerazzurri menundukkan Parma dengan skor meyakinkan 2-0 di Stadion Giuseppe Meazza, Senin dini hari WIB, 4 Mei 2026.
Kemenangan tersebut membuat Inter Milan menyegel Scudetto ke-21 dalam sejarah klub, bukan cuma poin. Lebih istimewa lagi, gelar ini lahir di musim perdana Cristian Chivu sebagai pelatih tim utama, ini menjadi sebuah capaian yang langsung menempatkannya dalam jajaran figur bersejarah Inter.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Bagi Chivu, momen ini bukan sekadar gelar juara. Ia pernah merasakan euforia serupa sebagai pemain, namun kini berdiri di sisi lapangan sebagai pelatih. Ia menjadi sosok langka dalam sejarah Inter yang mampu meraih Scudetto sebagai pemain dan pelatih, mengikuti jejak Armando Castellazzi.
“Scudetto ke-21 adalah bab penting dalam sejarah klub ini,” ujar Chivu dalam pernyataan resmi yang dikutip dari laman resmi klub, Senin 4 Mei 2026.
Ia tak lupa menyoroti perjalanan tim yang penuh dinamika sepanjang musim. Mulai dari tekanan, hasil buruk, hingga keraguan dari luar, semuanya berhasil dilalui dengan kerja keras.
“Ini seperti maraton. Ada pasang surut, tapi pada akhirnya tim yang paling konsisten akan menang. Untungnya, itu adalah kami,” katanya.
Bangkit dari Tekanan
Inter sempat mengalami momen sulit, termasuk tersingkir dari Liga Champions dan hasil negatif di laga derbi. Namun, menurut Chivu, titik balik justru terjadi di pertengahan musim.
“Antara Januari dan Februari, kami mulai sadar bahwa kami benar-benar kompetitif,” ucap Chivu.
Sejak saat itu, Inter tampil lebih stabil dan mampu menjaga konsistensi hingga garis akhir. Chivu juga menegaskan bahwa keberhasilan ini tak lepas dari mentalitas para pemainnya.
“Mereka pantas merasakan momen ini. Mereka bekerja keras dan tidak menyerah,” lanjutnya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Di balik kesuksesan tersebut, Chivu membawa pendekatan yang cukup personal. Ia mengaku belajar dari pengalaman masa lalu, termasuk momen reflektif dalam hidupnya yang mengubah cara pandangnya sebagai pelatih.
“Saya mencoba menjadi manusiawi, memahami kapan harus memberi tekanan dan kapan memberi penghargaan,” ujarnya.
Halaman Selanjutnya
Dalam aspek taktik, ia menekankan fleksibilitas. Inter tak selalu bermain dengan pendekatan yang sama, melainkan menyesuaikan dengan lawan di setiap pertandingan.

1 week ago
9











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364675/original/098242200_1759123308-padel_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5555113/original/019639800_1776143107-Mahasiswa_UI_diduga_lakukan_pelecehan_seksual__2_.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5556554/original/020780300_1776253850-BPJS_Kesehatan.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3301494/original/038090600_1605800346-Tips.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5030100/original/095728600_1732950329-ciri-ciri-urine-penderita-diabetes.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5457086/original/001907200_1766985704-mohammad-o-siddiqui-uXIx0Ss3b-c-unsplash.jpg)