Dokter Ungkap Strategi Hadapi Orang Tua Anti Vaksin Tanpa Perdebatan

1 day ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Fenomena orang tua anti vaksin masih menjadi tantangan dalam upaya meningkatkan cakupan imunisasi anak di Indonesia. Tidak sedikit yang tetap yakin anaknya sehat meski tidak di-vaksin. Padahal, kondisi tersebut kerap dipengaruhi oleh lingkungan sekitar yang sudah memiliki cakupan imunisasi tinggi. Lalu, bagaimana cara menyikapinya tanpa memicu perdebatan?

Dokter spesialis anak lulusan Universitas Indonesia, dr. Kanya Ayu, Sp.A mengatakan bahwa pendekatan edukasi tetap menjadi kunci utama. Namun, fokusnya bukan pada mereka yang menolak mentah-mentah, melainkan pada kelompok yang masih terbuka.

"Kita tidak usah pusing dengan yang tidak setuju. Fokus saja memberikan edukasi pada yang mau dan yang masih ragu-ragu," ujar sosok di balik akun Instagram, @momdoc.id kepada Health Liputan6.com dalam dalam diskusi media 'Kalventis Hadirkan Vaksin Influenza Trivalen Sesuai Rekomendasi WHO' di Jakarta belum lama ini.

Menurutnya, kelompok ragu-ragu justru memiliki potensi besar untuk berubah. Mereka biasanya memahami pentingnya vaksin, tapi masih terpengaruh informasi yang simpang siur.

Dalam kondisi ini, kata Kanya, tenaga kesehatan dan orang terdekat berperan penting untuk memberikan informasi yang benar dan berbasis ilmiah.

Dia menegaskan bahwa perdebatan dengan kelompok anti vaksin justru tidak efektif. "Jangan dikasih panggung. Hoaks soal vaksin sudah ada sejak puluhan tahun lalu dan polanya itu-itu saja, padahal penelitian terus berkembang," kata Kanya.

Dia, menambahkan, vaksin yang digunakan saat ini sudah jauh berkembang dibandingkan ratusan tahun lalu. Misalnya, vaksin varisela yang terus mengalami penyempurnaan dari segi jenis dan kandungan, sehingga keamanan dan efektivitasnya semakin terjamin.

Dokter Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang Anak, Magister Sains Psikologi Perkembangan, sekaligus anggota Satgas Imunisasi IDAI, Prof. DR. dr. Soedjatmiko, Sp.A (K), MSi turut berkomentar soal fenomena anak yang tidak divaksin tapi tetap terlihat sehat.

Kondisi ini sering disalahartikan sebagai bukti bahwa vaksin tidak diperlukan. Padahal, kata Miko, ada faktor penting yang berperan, yaitu herd immunity atau kekebalan kelompok.

"Anak yang tidak divaksin bisa saja terlihat sehat karena berada di lingkungan dengan cakupan vaksinasi tinggi. Kalau lebih dari 80 persen sudah divaksin, anak tersebut ikut terlindungi," ujarnya.

Namun, perlindungan tersebut bersifat semu dan tidak permanen. Risiko justru meningkat ketika anak berada di lingkungan berbeda, seperti saat bepergian atau pulang kampung ke daerah dengan cakupan imunisasi rendah.

"Ketika keluar dari lingkungannya, misalnya ke tempat umum seperti pasar, mal, atau transportasi umum, anak yang tidak divaksin tetap berisiko terkena penyakit berat, bahkan bisa menyebabkan kecacatan atau kematian," tambahnya.

Sebaliknya, anak yang sudah divaksin tetap bisa terpapar virus, tapi umumnya hanya mengalami gejala ringan dan cepat pulih.

Strategi komunikasi yang tepat menjadi kunci dalam menghadapi orang tua antivaksin. Alih-alih berdebat, pendekatan edukatif dan empatik dinilai lebih efektif untuk membangun kesadaran.

"Kita fokus saja pada yang mau dan yang masih di grey area. Harapannya, dengan edukasi yang benar, mereka tergerak untuk melengkapi vaksin anak dan keluarganya," pungkas Kanya.

Dengan pendekatan ini, upaya meningkatkan cakupan imunisasi diharapkan dapat berjalan lebih efektif, sekaligus membangun perlindungan kesehatan yang lebih luas bagi masyarakat.

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |