Efek Perang Iran Makin Terasa, Industri Pariwisata Jepang Kehilangan Ribuan Turis Eropa

4 hours ago 2

Senin, 20 April 2026 - 14:14 WIB

Jakarta, VIVA – Industri pariwisata Jepang mulai merasakan dampak serius dari perang yang melibatkan Iran serta konflik Amerika Serikat-Israel. Meski jumlah wisatawan asing sempat mencetak rekor pada Maret 2026, tekanan geopolitik global kini mulai memukul sektor inbound tourism, terutama dari pasar Eropa.

Penutupan Selat Hormuz serta melonjaknya harga minyak dunia membuat biaya perjalanan udara dari Eropa ke Jepang semakin mahal. Banyak maskapai yang sebelumnya melayani rute populer Eropa-Jepang melalui Timur Tengah juga terpaksa membatalkan penerbangan, sehingga wisatawan harus beralih ke penerbangan langsung yang jauh lebih mahal.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Akibatnya, sejumlah destinasi favorit wisatawan Eropa di Jepang mulai mengalami gelombang pembatalan besar-besaran. Scroll untuk info lebih lanjut... 

Salah satu wilayah yang paling terdampak adalah kawasan Hida-Takayama di Prefektur Gifu, yang terkenal dengan keindahan Pegunungan Alpen Jepang dan dekat dengan desa bersejarah Shirakawa-go yang berstatus Situs Warisan Dunia UNESCO.

Sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026, sekitar 4.000 pembatalan hotel dan penginapan tercatat di wilayah tersebut, dan mayoritas berasal dari tamu asal Eropa. Pejabat Hida-Takayama Ryokan and Hotel Cooperative, Minoru Nakahata, mengatakan, hilangnya wisatawan Eropa secara mendadak menjadi pukulan besar karena sulit digantikan oleh turis negara lain.

“Sulit untuk melihat seperti apa masa depan dalam waktu dekat. Tidak seperti wisatawan Jepang, yang mungkin memutuskan bepergian secara mendadak karena kamar tiba-tiba tersedia, wisatawan asing tidak bisa melakukan itu,” kata Nakahata, sebagaimana dikutip dari Japan Times, Senin, 20 April 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pada 2025, Kota Takayama termasuk kawasan Hida-Takayama berhasil menarik 978.312 wisatawan asing yang menginap setidaknya satu malam. Angka itu naik 27,1 persen dibanding tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, sebanyak 220.141 wisatawan berasal dari Eropa, meningkat 21,6 persen dibanding 2024.

Menurut Nakahata, wisatawan dari Spanyol, Inggris, Italia, Prancis, Jerman, Belanda, hingga Israel menjadi penyumbang besar kunjungan ke kawasan tersebut. “Kami memiliki jumlah pengunjung yang sangat besar dari Spanyol, Inggris, Italia, Prancis, Jerman dan Belanda. Kami juga memiliki banyak pengunjung dari Israel. Mereka semua tertarik pada keindahan alam kawasan ini dan suasana tradisional Shirakawa-go di dekatnya,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya

Peneliti dari Sumitomo Mitsui Trust Research Institute, Saki Iwata, memperkirakan dalam beberapa bulan ke depan jumlah wisatawan jarak jauh, terutama dari Eropa dan Timur Tengah, akan terus menurun. “Namun, mayoritas besar wisatawan asing ke Jepang saat ini berasal dari Asia. Dari perspektif jangka pendek, jika terjadi penurunan signifikan wisatawan Asia, ini bisa berdampak lebih besar terhadap belanja wisata inbound dibandingkan penurunan besar wisatawan dari Eropa dan Timur Tengah,” katanya.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |