Eks PM Qatar Bongkar Upaya Israel ‘Menjerumuskan’ AS ke Konflik Iran Sejak Era Clinton

2 days ago 2

Selasa, 12 Mei 2026 - 08:00 WIB

VIVA –Mantan Perdana Menteri Qatar, Hamid bin Jassim Al Thani menyebut perang terhadap Iran merupakan upaya panjang Israel untuk mengubah kawasan Timur Tengah secara paksa. Dalam wawancaranya dengan Al Jazeera, Hamad juga menilai pembentukan ‘NATO Teluk’ harus segera dilakukan.

“Kita sedang menyaksikan restrukturisasi besar di kawasan ini,” kata Sheikh Hamad dikutip dari laman Middle Eye East, Selasa 12 Mei 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dia mejelaskan kelompok garis keras Israel yang dipimpin Benjamin Netanyahu sebenarnya sudah berupaya mendorong Amerika Serikat melawan Iran sejak pemerintahan Bill Clinton pada tahun 90an dengan alasan program nuklir.

Sheikh Hamad juga menilai pemerintahan AS sebelumnya termasuk pemerinathan Donald Trump periode pertama sempat ragu untuk terlibat dalam perang secara langsung. Namun kata dia, Netanyahu berhasil menjual ‘ilusi’ kepada Washington untuk melawan Iran.

“Ia meyakinkan pemerintah AS bahwa perang ini akan berlangsung singkat dan cepat, serta rezim Iran akan jatuh dalam hitungan minggu,” ujarnya, sambil menyinggung penangkapan mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

Ambisi Israel

Hamad mengatakan kekuatan terbesar Amerika sebenarnya terletak pada kemampuannya menghindari penggunaan kekuatan militer, bukan justru mengerahkan kekuatan tersebut.

Ia menilai Netanyahu menjadi pihak yang paling diuntungkan dari perang melawan Iran.  Dijelaskannya, Netanyahu saat ini sedang memanfaatkan perang untuk membentuk ulang kawasan sekaligus mempromosikan visi ‘Israel Raya’ lebih luas.

Sejak AS dan Israel melancarkan perang pada 28 Februari lalu, Iran disebut telah membalas dengan menyerang sejumlah negara Teluk, termasuk Qatar. Serangan itu menyasar pangkalan militer AS, infrastruktur energi, hingga fasilitas sipil.

Hamad mengecam serangan Iran terhadap fasilitas energi, industri, dan infrastruktur sipil di kawasan Teluk. Ia menegaskan negara-negara Teluk sejak awal menolak konflik tersebut.

Meski demikian, ia mengatakan kedekatan geografis dengan Iran membuat negara-negara Teluk tetap harus hidup berdampingan dengan Teheran dan membuka jalur dialog.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurutnya, ancaman terbesar bagi kawasan Teluk justru bukan Iran, Israel, ataupun pangkalan asing, melainkan perpecahan di antara negara-negara Teluk sendiri.

Oleh karena itu, ia mendorong pembentukan “NATO Teluk” yang terdiri dari negara-negara Teluk dengan kepentingan strategis yang sejalan, dengan Saudi Arabia sebagai tulang punggung utama.

Halaman Selanjutnya

Ia menjelaskan bahwa pangkalan militer AS selama ini memang memberikan efek penangkal di kawasan. Namun karena Washington kini mulai mengalihkan fokusnya ke Asia dan China, negara-negara Teluk tidak bisa terus bergantung pada payung keamanan Amerika.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |