Jakarta, VIVA - Penyedia solusi digital identity dan fraud prevention, Vida, mengingatkan pentingnya infrastruktur identitas digital yang aman dan dapat diverifikasi dalam melindungi ekosistem financial technology (fintech) yang terus berkembang.
Founder and Group CEO Vida, Niki Santo Luhur, memaparkan bagaimana taktik kejahatan siber kian berkembang secara kompleks, sekaligus menyoroti langkah-langkah strategis yang perlu diambil oleh pelaku industri fintech di Asia untuk mengantisipasi ancaman tersebut.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Kita semua menyadari bahwa scam semakin marak terjadi di seluruh dunia dengan beragam modus yang terus berkembang. Edukasi saja tidak cukup untuk menghadapi tantangan ini. Perlu diimbangi dengan penguatan infrastruktur serta ekosistem hukum yang mampu melindungi konsumen dan meningkatkan standar keamanan,” ujarnya, Jumat, 24 April 2026.
Penguatan infrastruktur menjadi fondasi penting bagi pelaku fintech. Ia meyakini bahwa penerapan multi-layered defense sangat diperlukan untuk menghadapi modus penipuan digital yang semakin canggih.
“Seperti pada abad pertengahan, ketika membangun sebuah istana, maka sistem pertahanan dirancang berlapis untuk melindungi dari serangan musuh. Pendekatan serupa juga perlu diterapkan dalam membangun keamanan di industri fintech,” tutur dia.
Niki lalu membagikan empat lapisan dan langkah strategis yang dapat diterapkan oleh pelaku fintech untuk mengoptimalkan sistem keamanan mereka:
1. Verifikasi individu. Pemanfaatan teknologi biometrik yang didukung dengan lapisan pengamanan tambahan menjadi krusial untuk memastikan bahwa pengguna merupakan individu nyata, bukan sekadar gambar atau potongan foto yang diambil dari internet.
2. Verifikasi perangkat. Aspek ini kerap terlewatkan, padahal jika diantisipasi dapat membantu memperkuat sistem keamanan. Banyak serangan berawal dari celah pada perangkat, seperti injection attack yang memungkinkan memanipulasi kamera.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Dalam skenario ini, pelaku scam dapat memasukkan data biometrik palsu, seperti foto, rekaman video, atau deepfake berbasis AI ke dalam sistem. Oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa sumber kamera dan biometrik wajah yang digunakan benar-benar autentik dan tidak dimanipulasi.
3. Verifikasi identitas. Penting untuk memastikan bahwa identitas yang digunakan telah terdaftar dalam database pemerintahan setempat, termasuk kesesuaian dengan dokumen identitas fisik yang dimiliki.
Halaman Selanjutnya
4. Pemanfaatan teknologi berbasis AI. Integrasi AI dalam setiap lapisan keamanan memungkinkan pelaku fintech untuk mendeteksi anomali secara lebih akurat dan adaptif, sekaligus meningkatkan skalabilitas dalam menghadapi pola serangan yang terus berkembang. “Then you have AI working with you, so AI is on your side,” tegas Niki.

1 day ago
4



























