Ginjal Kebanjiran Urine, Kenali Hidronefrosis dari Penyebab hingga Penanganannya

16 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Ginjal kebanjiran urine merujuk pada kondisi hidronefrosis. Secara sederhana, ini adalah kondisi di mana ginjal membengkak karena urine tidak bisa mengalir keluar dan justru tertahan di dalam ginjal.

“Bayangkan ginjal Anda seperti wastafel. Jika saluran pembuangannya tersumbat, air akan meluap dan menggenang di bak wastafel. Begitu juga dengan ginjal, jika saluran kemih terhambat, urine akan menumpuk dan menekan jaringan ginjal,” kata dokter spesialis bedah urologi, Mochamad Sri Herlambang mengutip laman EMC, Sabtu (11/4/2026).

Meskipun terkadang tidak menunjukkan gejala di tahap awal, hidronefrosis tingkat sedang hingga berat biasanya menimbulkan keluhan seperti:

  • Nyeri pinggang atau punggung: Biasanya terasa di satu sisi (tergantung ginjal mana yang bengkak).
  • Nyeri perut: Rasa tidak nyaman yang menjalar ke bagian bawah.
  • Gangguan buang air kecil: Merasa ingin kencing terus-menerus atau ada darah dalam urine.
  • Gejala infeksi: Jika sudah terjadi infeksi, pasien mungkin mengalami demam, menggigil, hingga mual dan muntah.

Penyebab hidronefrosis pada orang dewasa bisa sedikit berbeda dengan bayi. Kondisi ini secara umum disebabkan oleh:

  • Sumbatan fisik: Bisa karena batu ginjal yang tersangkut di saluran (ureter), adanya tumor, atau pada pria akibat pembengkakan prostat yang menjepit saluran kencing.
  • Arus balik (Refluks): Urine yang seharusnya turun ke kandung kemih malah kembali naik ke ginjal karena katup saluran yang tidak berfungsi baik.
  • Masalah saraf: Kandung kemih yang tidak bisa mengosongkan diri dengan benar sehingga urine menumpuk hingga ke ginjal.

Jika Dibiarkan

Mochamad Sri mengingatkan agar tidak menganggap remeh ginjal yang bengkak. Jika tidak segera ditangani, tekanan terus-menerus dari urine bisa menyebabkan berbagai keluhan seperti:

  • Jaringan parut: Ginjal rusak secara permanen dan tidak bisa berfungsi optimal.
  • Hipertensi: Kerusakan ginjal seringkali memicu tekanan darah tinggi.
  • Gagal ginjal: Kondisi paling parah di mana ginjal berhenti bekerja total dan memerlukan cuci darah.

Untuk mendiagnosis hidronefrosis pada orang dewasa, dokter biasanya melakukan beberapa tes berikut:

  • USG ginjal: Cara paling cepat dan nyaman untuk melihat langsung pembengkakan pada ginjal.
  • Rontgen khusus (VCUG): Dokter akan memasukkan cairan khusus ke kandung kemih untuk melihat apakah ada urine yang mengalir balik ke atas atau ada sumbatan di saluran kencing.
  • Scan ginjal oleh kedokteran nuklir: Menggunakan zat khusus yang disuntikkan ke darah untuk melihat seberapa baik ginjal bekerja dalam menyaring cairan.

“Kabar baiknya, hidronefrosis adalah kondisi yang bisa diobati. Fokus utamanya adalah menghilangkan sumbatan agar urine bisa mengalir lancar kembali. Penanganannya bisa berupa pemberian obat-obatan, pemasangan selang kecil (stent) untuk membuka saluran, atau prosedur pembedahan tergantung penyebab utamanya,” kata dokter yang bertugas di RS EMC Tangerang.

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |