4 Tips Kurangi Risiko Usus Buntu, Salah Satunya Setop Kebiasaan Tahan BAB

21 hours ago 1

Liputan6.com, Jakarta - Dokter spesialis bedah umum Lucia Nirmalasari membagikan empat tips mengurangi risiko usus buntu, yakni:

  1. Mengonsumsi makanan yang kaya serat seperti buah dan sayur
  2. Minum air putih yang cukup setiap hari
  3. Menjaga pola makan yang seimbang
  4. Menghindari kebiasaan menahan buang air besar (BAB).

“Walaupun tidak semua kasus usus buntu dapat dicegah, beberapa langkah ini dapat membantu menjaga kesehatan sistem pencernaan. Menjaga pola hidup sehat dapat membantu mengurangi risiko gangguan pada sistem pencernaan, termasuk usus buntu,” kata Lucia mengutip laman EMC, Kamis (9/4/2026).

Dia menambahkan, banyak orang mengira bahwa usus buntu hanya terjadi pada orang tertentu. Padahal, kondisi ini bisa dialami oleh siapa saja, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Usus buntu sering muncul secara tiba-tiba dan biasanya ditandai dengan nyeri perut yang semakin memburuk.

Dalam dunia medis, usus buntu dikenal sebagai Apendisitis, yaitu peradangan pada organ kecil bernama apendiks yang terletak di bagian kanan bawah perut. Jika tidak ditangani dengan tepat, peradangan ini dapat menimbulkan komplikasi yang serius.

“Usus buntu adalah organ kecil berbentuk seperti kantong yang menempel pada bagian awal usus besar. Walaupun ukurannya kecil, organ ini bisa menimbulkan masalah ketika terjadi penyumbatan di dalamnya,” kata dokter yang bertugas di RS EMC Alam Sutera.

Penyebab Penyumbatan Usus Buntu

Penyumbatan pada usus buntu dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti penumpukan tinja, pembengkakan jaringan, atau infeksi. Ketika terjadi penyumbatan, bakteri dapat berkembang di dalam usus buntu dan memicu peradangan yang menyebabkan nyeri.

Peradangan pada usus buntu inilah yang kemudian dikenal sebagai Apendisitis.

Pada dasarnya, usus buntu bisa terjadi pada siapa saja. Namun, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi ini, yakni:

Usia Remaja hingga Dewasa Muda

Kasus usus buntu paling sering terjadi pada usia sekitar 10 hingga 30 tahun. Meski demikian, anak-anak maupun orang dewasa tetap bisa mengalami usus buntu.

Riwayat Keluarga

Seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat usus buntu mungkin memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami kondisi yang sama.

Pola Makan Rendah Serat

Pola makan yang rendah serat dapat meningkatkan risiko gangguan pencernaan. Kurangnya asupan serat dapat menyebabkan sembelit yang berpotensi memicu penyumbatan pada usus buntu.

Infeksi pada Saluran Pencernaan

Infeksi bakteri atau virus pada saluran pencernaan juga dapat menyebabkan pembengkakan jaringan yang dapat memicu terjadinya usus buntu.

Gejala Usus Buntu

Gejala usus buntu biasanya muncul secara bertahap. Tanda yang paling umum adalah nyeri perut yang awalnya terasa di sekitar pusar, kemudian berpindah ke bagian kanan bawah perut.

Selain nyeri perut, beberapa gejala usus buntu yang sering muncul antara lain:

  • Mual dan muntah
  • Nafsu makan menurun
  • Demam ringan
  • Perut terasa kembung
  • Nyeri yang semakin terasa saat bergerak, batuk, atau berjalan.

“Jika gejala tersebut muncul dan terasa semakin berat, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter.”

Usus buntu yang tidak segera ditangani dapat menyebabkan komplikasi yang serius. Salah satu komplikasi yang paling berbahaya adalah pecahnya usus buntu.

Ketika usus buntu pecah, bakteri dapat menyebar ke rongga perut dan menyebabkan infeksi serius yang disebut Peritonitis. Kondisi ini memerlukan penanganan medis segera karena dapat membahayakan kesehatan.

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |