Jakarta, VIVA – Inflasi pangan di Iran melonjak tajam di tengah perang dan tekanan ekonomi yang terus memburuk. Harga sejumlah bahan pokok seperti minyak goreng, beras, hingga ayam naik drastis dan membuat masyarakat semakin kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Pusat Statistik Iran melaporkan inflasi tahunan negara itu mencapai 73,5 persen pada bulan Farvardin, periode yang berakhir 20 April lalu. Angka tersebut naik lima persen dibanding bulan sebelumnya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Sementara itu, Bank Sentral Iran mencatat inflasi tahunan sebesar 67 persen dengan kenaikan bulanan mencapai tujuh persen. Meski menggunakan metode berbeda, kedua data menunjukkan laju inflasi Iran semakin tinggi.
Kondisi paling parah terjadi pada sektor pangan. Inflasi makanan tercatat mencapai 115 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Harga minyak nabati padat melonjak 375 persen, minyak goreng cair naik 308 persen, beras impor naik 209 persen, beras lokal Iran meningkat 173 persen, dan harga ayam naik 191 persen.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, meminta masyarakat memahami kondisi negara yang sedang menghadapi tekanan akibat perang.
“Masyarakat harus memahami secara realistis kondisi dan keterbatasan yang dihadapi negara,” kata Pezeshkian, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera, Senin, 5 Mei 2026.
“Wajar jika ada kesulitan dan masalah dalam situasi seperti ini, tetapi dengan kerja sama masyarakat dan persatuan nasional, masalah dapat diselesaikan,” lanjutnya.
Seorang warga Teheran mengatakan dirinya kini tidak lagi mampu membeli sejumlah barang yang sebelumnya masih terjangkau.
“Dan bukan hanya saya, saya rasa sebagian besar masyarakat sekarang tidak mampu membeli banyak hal yang mereka inginkan,” ujarnya.
Lonjakan harga juga dirasakan pelaku usaha kecil. Majid, pekerja kedai kebab hati di Teheran, mengatakan tempat usahanya sudah tiga kali menaikkan harga dalam beberapa bulan terakhir.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Harga hati sudah naik dua kali lipat. Saat kami bertanya kepada pemasok, mereka bilang stok langka atau domba diekspor,” katanya.
Pemerintah Iran mencoba menekan dampak krisis dengan memberikan subsidi tunai dan voucher elektronik untuk membeli kebutuhan pokok. Namun nilainya masih kecil, yakni kurang dari US$10 atau sekitar Rp170 ribu per orang setiap bulan.
Halaman Selanjutnya
Di sisi lain, mata uang rial terus melemah. Nilai tukar di pasar bebas Teheran kini berada di kisaran 1,77 juta rial per dolar Amerika Serikat. Padahal setahun lalu nilainya masih sekitar 830 ribu rial per dolar AS.

2 days ago
3











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364675/original/098242200_1759123308-padel_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5555113/original/019639800_1776143107-Mahasiswa_UI_diduga_lakukan_pelecehan_seksual__2_.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5556554/original/020780300_1776253850-BPJS_Kesehatan.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3301494/original/038090600_1605800346-Tips.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5030100/original/095728600_1732950329-ciri-ciri-urine-penderita-diabetes.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5457086/original/001907200_1766985704-mohammad-o-siddiqui-uXIx0Ss3b-c-unsplash.jpg)