Harga Minyak Dunia Makin Mahal, Tembus US$111 per Barel

1 week ago 4

Senin, 4 Mei 2026 - 16:35 WIB

Jakarta, VIVA Harga minyak dunia masih menjadi perhatian pasar global di tengah meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Konflik yang melibatkan jalur perdagangan energi utama dunia mulai memberikan dampak nyata, tidak hanya pada sektor energi tetapi juga ke pasar keuangan secara keseluruhan.

Di saat yang sama, investor terlihat masih bersikap hati-hati. Meski harga minyak melonjak, pasar saham global justru menunjukkan pergerakan yang relatif stabil.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Berdasarkan laporan The New York Times, harga minyak jenis Brent sebagai acuan global naik sekitar 2 persen menjadi US$111 atau Rp1,72 juta per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang menjadi patokan Amerika Serikat juga naik 2 persen ke level sekitar US$104 atau Rp1,6 juta per barel.

Kenaikan harga ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa pemerintahnya akan membantu kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu rute perdagangan energi paling vital di dunia.

Dalam pernyataannya, Trump mengatakan Amerika Serikat akan berupaya memastikan kelancaran lalu lintas kapal. “Kami akan menggunakan upaya terbaik untuk membantu kapal-kapal keluar dari selat yang tidak terlibat dalam konflik,” ungkapnya, sebagaimana dikutip dari NYT, Senin, 4 Mei 2026.

Namun, Trump tidak merinci bagaimana mekanisme tersebut akan dijalankan. Komando Pusat Amerika Serikat (U.S. Central Command) mengindikasikan bahwa peran negaranya akan fokus pada koordinasi lalu lintas kapal agar tetap aman.

Di sisi lain, Trump juga mengungkapkan bahwa dirinya tengah meninjau proposal perdamaian dari Iran, meski ia meragukan kesepakatan tersebut akan dapat diterima.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kondisi di Selat Hormuz menjadi perhatian utama investor. Jalur sempit yang berada di antara Iran dan Oman ini merupakan rute penting yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Gangguan sekecil apa pun di kawasan ini berpotensi memicu lonjakan harga energi secara global.

Meski harga minyak naik, pasar saham menunjukkan respons yang lebih moderat. Kontrak berjangka indeks S&P 500 diperkirakan akan dibuka sedikit lebih tinggi saat perdagangan di Amerika Serikat dimulai kembali.

Halaman Selanjutnya

Sementara itu, bursa saham di Asia mayoritas menguat. Pasar di Taiwan dan Korea Selatan bahkan melonjak lebih dari 4 persen, didorong oleh penguatan saham sektor semikonduktor. Adapun pasar di Jepang dan China ditutup karena hari libur.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |