Harga Minyak Global Naik saat Iran Tolak Damai dengan AS

6 hours ago 3

Kamis, 26 Maret 2026 - 20:50 WIB

Jakarta, VIVA – Harga minyak mentah global pulih mengikuti pergerakan emas dunia. Kenaikan terjadi saat ketegangan geopolitik meningkat karena Iran mengisyaratkan tidak berniat melakukan diskusi mengakhiri perang Amerika Serikat (AS).

Minyak mentah Brent sebagai acuan internasional naik 3,8 persen ke level US$106,12 atau sekitar Rp 1,79 juta (estimasi kurs Rp 16.910 per dolar AS) per barel pada sesi perdagangan Kamis, 26 Maret 2026. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga membukukan lonjakan pesat sebesar 3,6 persen menjadi US$93,61 atau sekitar Rp 1,58 juta per barel.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Melansir CNBC Internasional, kenaikan harga minyak dunia dipicu pernyataan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang menegaskan bahwa komunikasi melalui mediator tidak bisa diartikan sebagai negosiasi langsung dengan AS. Media pemerintah Iran juga melaporkan bahwa Teheran berencana menolak tawaran gencatan senjata dari Washington dan telah menyiapkan sejumlah syarat sendiri untuk mengakhiri konflik.

“Pertukaran pesan melalui mediator tidak berarti ‘negosiasi dengan Amerika Serikat,” ucap Araghchi seperti yang dikabarkann media lokal Iran. 

Pernyataan Araghchi mempertegas perbedaan sikap antara kedua negara. Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya mengklaim bahwa Washington dan Teheran tengah berada dalam proses negosiasi.

“Kami sedang bernegosiasi saat ini,” kata Trump. 

Trump juga menyebut telah menahan rencana serangan terhadap infrastruktur energi Iran sehubung dengan negosiasi yang sedang berlangsung. Namun, Iran secara konsisten membantah adanya pembicaraan langsung dengan AS sehingga memperbesar ketidakpastian di pasar energi global.

Analis dari TD Securities menilai lonjakan harga minyak akibat konflik ini belum tentu memicu respons agresif dari bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).  Menurut mereka, meskipun pasar mulai memperhitungkan potensi kenaikan suku bunga akibat ekspektasi inflasi yang meningkat, The Fed kemungkinan tetap mengambil sikap hati-hati (hawkish).

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“The Fed akan melihat melewati guncangan harga energi ini selama ekspektasi inflasi jangka panjang tetap terjaga dan dampak lanjutan masih terkendali,” tulis analis TD Securities.

Bank investasi tersebut juga menilai The Fed cenderung mempertahankan sikap wait and see dengan arah kebijakan yang masih condong pada pemangkasan suku bunga di paruh akhir 2026.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun harga energi melonjak akibat konflik geopolitik, respons kebijakan moneter global belum tentu berubah secara drastis dalam waktu dekat.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia

Bahlil Tegaskan Stok Energi RI Aman di Tengah Krisis Global, Cadangan Nasional Capai 21-28 Hari

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan stok BBM, LPG, dan energi Indonesia aman meski krisis global akibat perang AS-Iran. Cadangan nasional masih stabil.

img_title

VIVA.co.id

26 Maret 2026

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |